
Oleh: Hedwig Maria (Guru Bahasa Inggris SMAK Santo Paulus Jember)
Di ruang kelas tradisional proses pembelajaran dibatasi oleh dinding dan waktu. Guru dengan segala kelebihan dan kelemahannya menjadi satu-satunya narasumber bagi murid dalam memperoleh ilmu. Tidak jarang guru yang tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni menjadi batu sandungan bagi para muridnya untuk berkembang. Namun, sejak perkembangan teknologi mulai merambah dunia pendidikan, ruang kelas virtual membawa para murid untuk menjelajah dunia tanpa harus meninggalkan ruang kelas mereka. Mereka bisa berkomunikasi dengan siapa saja, mendapatkan informasi dari mana saja, mengembangkan dan mengasah keterampilan dan hobi mereka hanya dengan melalui layar komputer mereka.
Perkembangan teknologi yang demikian cepat memaksa para insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan untuk segera berbenah diri mulai dari kurikulum hingga metode pembelajaran. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sendiri telah memperkuat pembenahan ini melalui program Digitalisasi Pembelajaran yang berlandaskan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang revitalisasi satuan pendidikan. Namun, sebuah langkah besar selalu dimulai dari langkah kecil yaitu ruang kelas. Melalui ruang kelas para generasi penerus bangsa ini mulai dibentuk. Oleh karena itu, Indonesia mampu bertransformasi menuju negara yang berdaulat, adil dan makmur apabila proses transformasi itu dimulai dari yang paling mendasar yaitu ruang kelas di mana generasi penerus mulai bersentuhan dengan teknologi.
Ruang Kelas dan Teknologi sebagai Titik Awal Sebuah Transformasi
Kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diuji dari batas wilayah namun juga kedaulatan bahasa yang menjadi identitas jati dirinya. Kemudahan komunikasi dan interaksi antarbangsa di dunia melalui jaringan internet yang ditunjang dengan berbagai macam aplikasi media sosial menjadi tantangan yang berat bagi keberadaan bahasa Indonesia di kalangan remaja. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah kian terkikis oleh istilah – istilah asing dalam pergaulan digital mereka. Cara pandang mereka bahwa bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak gaul atau kurang kekinian membuat mereka sedikit demi sedikit menggeser penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dalam pergaulan mereka di dunia digital. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (untuk selanjutnya disingkat APJII) (2026), pengguna internet Indonesia kini mencapai lebih dari 215 juta jiwa dengan generasi muda sebagai kelompok paling aktif mengakses media sosial. Jumlah yang sangat besar ini akan mampu membuat kebanggaan dalam menggunakan slang atau serapan bahasa asing dan kemapanan dalam berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda menjadi goyah. Punahnya sebuah bahasa berarti hilangnya sebuah sistem kepercayaan, kebudayaan, pengetahuan tradisional dan ciri khas yang terkandung dalam bahasa tersebut karena bahasa adalah tempat tersimpannya nilai-nilai, cara pandang, kearifan lokal dan sejarah suatu bangsa dan menjadi sebuah kendaraan untuk menyusuri lorong waktu antar generasi. Oleh karena itu, menjaga kelestarian bahasa Indonesia dan bahasa daerah haruslah dimulai dari ruang kelas sebagai pertahanan pertama dengan menjadikan para murid sebagai duta bahasa dalam dunia digital mereka. Untuk mewujudkan hal ini, pendidikan di dalam kelas seharusnya diselaraskan dengan cara mereka berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah kebahasaan.
Kedaulatan bahasa menuntut ruang kelas beradaptasi dalam hal berkomunikasi, sedangkan keadilan dalam belajar menuntut adaptasi dalam hal cara belajar. Dalam pembelajaran tradisional, kemampuan, kebutuhan, dan gaya belajar para murid yang sangat beragam tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan sarana, prasarana dan waktu serta kapasitas guru untuk memperhatikan mereka satu persatu. Namun, kehadiran teknologi khususnya kecerdasan buatan memampukan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. Sebagai asisten, AI sangat membantu guru dalam memahami kebutuhan para murid dan menganalisis kemampuan mereka serta memberikan rekomendasi kepada guru untuk alternatif pelatihan dalam proses pembimbingan yang berbeda bagi setiap individu. AI juga membantu para murid untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka dengan multimodal pembelajaran seperti video interaktif, teks, latihan soal dalam bentuk gim. Ketika pemenuhan kebutuhan para murid dalam belajar terpenuhi, kepercayaan diri mereka akan meningkat. Murid yang semula dalam kelas tradisional merasa minder karena dianggap tidak mampu mengikuti pembelajaran oleh guru di kelas menjadi percaya diri setelah mereka mendapatkan pengalaman belajar mandiri dengan bantuan AI. Rasa percaya diri ini akan memotivasi mereka untuk belajar sepanjang hayat. Rasa keadilan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dan pendidikan akhirnya dapat dirasakan oleh setiap murid tanpa merasa terpinggirkan karena perbedaan kemampuan akademis atau perbedaan yang lain.
Selain menjaga kedaulatan bahasa dan memberikan keadilan belajar, ruang kelas dengan basis teknologi juga dapat menciptakan kesempatan bagi para murid untuk menuju pada kemakmuran bagi diri sendiri maupun bangsa. Ruang kelas tempat para guru membimbing dan mengarahkan para murid untuk siap menjadi inovator yang memiliki daya saing tinggi di dunia kerja modern adalah laboratorium pencetak profesional masa depan. Murid dibimbing untuk merancang masa depan mereka dan melatih mereka untuk beradaptasi dengan kompleksitas pekerjaan yang akan dihadapi namun tetap mempertahankan tujuan utama yang akan dicapai. Dengan bantuan kecerdasan buatan, sebagai desainer untuk masa depannya sendiri, murid dapat mensimulasikan berbagai versi jenis pekerjaan yang mereka inginkan terutama dalam pengambilan keputusan dengan cara mengidentifikasi lingkungan, tantangan dan kesempatan. Oleh karena itu, ruang kelas yang terintegrasi teknologi tidak hanya membantu pengembangan ‘soft skill’ dan ‘growth mindset’ mereka tapi juga pengembangan diri dengan mengintegrasikan kepribadian, karir dan profesionalitas. Ketika mereka mempunyai daya saing yang tinggi, tentu pada akhirnya mereka akan mampu menggerakkan roda ekonomi bangsa ini.
Indonesia Harus Bertransformasi

Melek teknologi bukanlah sebuah pilihan namun keharusan. Telah menjadi isu global bahwa kesenjangan antara mereka yang mampu mengakses internet dan teknologi dengan yang tidak memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan ekonomi nasional. Perkembangan teknologi yang sangat cepat menyebabkan mereka yang tidak mempunyai pengetahuan digital akan semakin tertinggal jauh. Menurut Laporan Masa Depan Pekerjaan 2025 yang diterbitkan oleh Forum Ekonomi Dunia (2025) hambatan paling signifikan dalam transformasi bisnis saat ini adalah kesenjangan keterampilan yang dibutuhkan dalam bisnis modern seperti keterampilan teknologi di bidang AI, data dan keamanan siber. Menurut laporan Linkedin dan World Economic Forum 92% pekerjaan menuntut keterampilan digital (2026). Seseorang dengan kemampuan literasi digital akan membuka peluang untuk bekerja bagi dirinya dan berkesempatan untuk mendapatkan gaji yang lebih besar. Sebaliknya, mereka dengan kemampuan literasi rendah menutup kesempatan untuk mendapatkan gaji yang lebih besar.
Jika jumlah masyarakat dengan daya beli sangat rendah cukup besar, perkembangan ekonomi negara tersebut akan berjalan dengan sangat lambat.
Sedangkan negara yang sebagian besar masyarakatnya menguasai teknologi akan memimpin dunia. Korea Selatan adalah sebuah contoh yang nyata. Kondisi keterpurukan ekonomi Korea Selatan setelah perang Korea sama dengan kondisi ekonomi Indonesia. Namun, mengapa sekarang GDP per kapita Korea Selatan bisa mencapai $39,924? Korea Selatan paham betul bahwa menguasai teknologi adalah cara transformasi yang sangat cepat untuk mencapai kemakmuran. Menurut OECD Economic Surveys of Korea, setelah bergabung dengan OECD (2021) Korea mereformasi ekonominya dengan menyelaraskan kebijakan ekonominya dengan kebijakan OECD diberbagai bidang termasuk pendidikan dan mengembangkan potensi sumber daya manusia dan teknologinya. Korea telah mampu menunjukkan kekuatan ekonominya di panggung ekonomi dunia salah satunya dengan kontribusinya dalam menjaga lingkungan. Mobil bertenaga listrik, baterai dan hidrogen adalah salah satu contohnya.
Sebuah lompatan transformasi yang dilakukan oleh Korea tidak hanya dimulai dari kebijakan ekonomi saja namun juga dari pendidikan. Pembentukan karakter dan kebiasaan mulai ditanamkan sejak pendidikan dasar dan menengah. Pembiasaan untuk menggunakan teknologi sejak dini juga dilakukan oleh Estonia melalui program Tiger Leap (tanpa tahun) dimana guru diberi pelatihan dan kursus komputer dan sekolah difasilitasi untuk mengakses internet dan Proge Tiger program yang mengembangkan literasi teknologi dan kemampuan digital guru dan murid. Ketika guru mengintegrasikan teknologi dalam sistem pembelajaran, pembiasaan penggunaan teknologi untuk hal-hal yang produktif akan membawa murid untuk lebih berinovasi daripada menggunakan teknologi untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif. Hal ini tentu akan berdampak pada tenaga kerja di masa depan yang menguasai literasi digital, inovatif dan kreatif.
Tantangan dan Risiko Selama Proses

Tantangan transformasi pendidikan dalam dunia digital yang paling krusial adalah ketidaksiapan begitu banyak guru dalam mengintegrasikan teknologi dalam rencana pembelajaran mengingat peran mereka sebagai fasilitator. Menurut riset jurnaldikbud.kemendikdasmen (2026) guru yang telah bersertifikasi profesional dan memiliki kualifikasi akademik tidak menunjukkan kemampuan digital yang dibutuhkan dalam pemanfaatan teknologi selama proses pembelajaran. Ketidaksiapan ini menimbulkan efek struktural. Ketika guru tidak percaya diri dalam menggunakan atau memanfaatkan teknologi dalam kelas, pembimbingan dan pengawasan untuk menggunakan teknologi yang sehat, produktif dan beretika selama proses pembelajaran tidak akan terjadi.
Tantangan berikutnya adalah adanya culture shock atau gegar budaya digital. Ketika ruang kelas memberikan kesempatan dan kemudahan untuk mengakses internet, fokus para murid bisa teralihkan pada media sosial dan aneka macam hiburan. Konten hiburan ini memungkinkan munculnya kecanduan yang justru menjauhkan minat untuk belajar mandiri. Ketergantungan yang berlebih pada teknologi juga harus menjadi perhatian para guru selama proses pembelajaran. Kehadiran kecerdasan buatan generatif yang mampu menjawab segala hal menjadi andalan bagi para murid dalam menyelesaikan tugas mereka tanpa pemahaman materi yang mendalam. Integrasi akademik mereka mulai mengalami penurunan karena mereka lebih mementingkan hasil daripada proses. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam bernalar dan bereksplorasi. Masalah yang lebih memprihatinkan adalah jika mereka sampai kehilangan rasa empati dan mengalami kelelahan mental akibat tekanan akademik dan media sosial. Oleh karena itu, persiapan modul ajar dan tata kelola pembelajaran yang terintegrasi teknologi menuntut kesiapan guru dalam ekosistem pembelajaran digital yang tetap mempertahankan nilai-nilai seperti empati dan kesadaran terhadap lingkungan.
Solusi
Melihat begitu banyaknya jumlah guru yang masih gagap teknologi, solusi utamanya adalah dengan meningkatkan digital literasi para guru dengan berbagai macam pelatihan yang sejalan dengan program Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran yang telah digulirkan Kemendikdasmen. Namun, pelatihan tidak boleh berhenti pada sebatas untuk pemenuhan persyaratan administratif tapi harus benar-benar ada upaya untuk penguatan kompetensi digital. Guru dilatih untuk tidak hanya tahu cara menggunakan aplikasi tapi bagaimana mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran yang bermakna, menyenangkan dan berkesadaran.
Ketika guru telah mempunyai kemampuan literasi digital yang memadai, guru akan mampu mengarahkan para murid untuk memilih sumber informasi yang valid dan etis dan membimbing mereka untuk lebih fokus pada pemanfaatan teknologi untuk pengembangan diri daripada menggunakannya hanya untuk sekedar mencari hiburan. Dalam hal ini, guru bertindak sebagai kurator dan kompas moral di tengah banjir arus informasi digital.
Kemampuan literasi digital guru yang dilengkapi dengan kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran yang menyenangkan, berkesadaran dan bermakna sesuai dengan paradigma Pembelajaran Mendalam yang dirumuskan oleh kemendikdasmen akan mengurangi resiko ketergantungan pada kecerdasan buatan generatif. Jika pembelajaran itu memunculkan kesadaran akan pentingnya fokus dalam belajar terutama secara mandiri, distraksi sosial media selama proses pembelajaran akan berkurang. Ketika pendekatan meaningful digunakan dalam pembelajaran, para murid akan mampu menghubungkan hal yang dipelajari yang sedang dipelajari dengan pengalaman nyata. Mereka akan belajar bahwa proses tidak bisa selalu dijawab instan oleh AI. Hal ini akan membuat para murid lebih memprioritaskan pemahaman terhadap materi daripada hasil akhir sehingga kemampuan bernalar dan bereksplorasi terasah karena pada dasarnya untuk memahami dibutuhkan keterlibatan aktif bukan hanya sekedar menyalin.
Penutup
Transformasi sebuah bangsa harus dibangun dari dasar secara bertahap agar pondasi bangunan kebangsaan benar-benar kokoh dan kuat bertahan dalam menghadapi goncangan dalam era disrupsi saat teknologi berkembang dengan sangat cepat. Pendidikan dasar dan menengah yang terintegrasi teknologi sudah merupakan keharusan untuk mempersiapkan sumber daya manusia seperti lompatan transformasi yang dilakukan oleh Korea dan Estonia. Kedua negara ini menerapkan pembelajaran berkelas dunia. Guru dengan kemampuan literasi digital yang memadai dan kemampuan untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang joyful, mindful dan meaningful akan membuat ruang kelas sebagai laboratorium kecil tempat masa depan bangsa ini dirancang. Karena itu untuk membangun dan mempertahankan Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur investasi terbaik adalah dengan membangun ekosistem pembelajaran digital yang lebih humanis – ekosistem yang menciptakan generasi bangsa yang cerdas secara digital, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Sumber:
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (Tanpa Tahun). Survei Internet APJII 2026. https://survei.apjii.or.id/
Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah. (2016). Infrastruktur Digital dan Kesiapan Guru terhadap Intensitas Pemanfaatan Pembelajaran Digital. https://jurnaldikbud.kemendikdasmen.go.id/index.php/jpnk/article/view/7107
Education Estonia. (Tanpa Tahun). How it All Began? From Tiger Leap to Digital Society. https://www.educationestonia.org/tiger-leap/
IEEE.org. (2026). Economic Effects of the Digital Divide: Unlocking Growth with Equitable Access. https://ctu.ieee.org/blog/2022/11/14/economic-effects-of-the-digital-divide-unlocking-growth-with-equitable-access/
International Monetary Fund. (2026). New Skills and AI Are Reshaping the Future of Work. (https://www.imf.org/en/blogs/articles/2026/01/14/new-skills-and-ai-are-reshaping-the-future-of-work
Kementrian Pekerjaan Umum. (2025). Detail Peraturan. https://jdih.pu.go.id/detail-dokumen/Inpres-nomor-7-tahun-2025-Percepatan-Pelaksanaan-Program-Pembangunan-dan-Revitalisasi-Satuan-Pendidikan-Anak-Usia-Dini-Pendidikan-Dasar-dan-Pendidikan-Menengah-Pembangunan-dan-Pengelolaan-Sekolah-Menengah-atas-Unggul-Garuda-dan-Digitalisasi-Pembelajaran
Linkedin. (2026). Digital Literacy: Your Career Essential for 2026. https://www.linkedin.com/pulse/digital-literacy-your-career-essential-2026-ken-lufue
Nace. (7 April 2025). Helping Students Design Their Future With AI-powered Career and Life Desig. https://www.naceweb.org/career-development/best-practices/helping-students-design-their-future-with-ai-powered-career-and-life-design
Organisation for Economic Co-operation and Development. (25 Oktober 2021). Korean Focus Areas: Sustaining the Miracle on the Han River. https://www.oecd.org/en/publications/korean-focus-areas_f91f3b75-en/sustaining-the-miracle-on-the-han-river_103653fa-en.html
Prastiwi, Mahar. (21 Maret 2025). Ribuan Sekolah di Indonesia Belum Punya Akses Internet dan Jaringan Listrik. https://www.kompas.com/edu/read/2025/03/21/193449071/ribuan-sekolah-di-indonesia-belum-punya-akses-internet-dan-jaringan-listrik
Sekolapedia. (2026). Sekolapedia: Portal Sekolah di Indonesia. https://daftarsekolah.spmb.teknokrat.ac.id/2026/07/kemajuan-ai-dalam-menciptakan-pengalaman-belajar-personal/
World Economic Forum. (7 Januari 2025). Future of Jobs Report 2025: 78 Million New Job Opportunities by 2030 but Urgent Upskilling Needed to Prepare Workforces. https://www.weforum.org/press/2025/01/future-of-jobs-report-2025-78-million-new-job-opportunities-by-2030-but-urgent-upskilling-needed-to-prepare-workforces/






