Maggot, Si Pengurai Sampah SMAK Santo Paulus!

“The greatest threat to our planet is the belief that someone else will save it.” (Robert Swan)

Hai-hai, SaintPaulers!Tahun ajaran baru, ada yang baru juga nih! Sekarang, setiap kelas resmi memiliki Tim Adiwiyata. Tim ini beranggotakan lima orang perwakilan yang bertugas menjaga kebersihan kelas setelah kegiatan belajar mengajar selesai setiap harinya. Eits, tapi tugas mereka tidak cuma menyapu dan membuang sampah, lho! Sebagai bekal menjalankan tugas, setiap kelas mengirimkan satu hingga dua perwakilan Tim Adiwiyata untuk mengikuti sosialisasi dari Enviro School Care, kelompok mahasiswa Universitas Jember (UNEJ), pada Jumat, 18 Juli 2026.

Sebelum praktik dimulai, para peserta diajak melakukan literasi dengan mempelajari modul budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF). Setelah memahami materinya, mereka menuangkan poin-poin penting ke dalam bentuk mind map. Nah, mind map inilah yang menjadi modal mereka sebelum terjun langsung ke lokasi praktik di lantai 3. Belajar jadi terasa jauh lebih mudah karena teori yang didapat bisa langsung dipraktikkan. Mantap, kan?

Eh, tapi sebelum lanjut, yuk kenalan dulu sama “bintang utama” kita! Maggot Black Soldier Fly (BSF) adalah larva dari lalat Hermetia illucens. Makhluk ini punya kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik. Mulai dari sisa sayur, kulit buah, ampas tahu, hingga sisa makanan, semuanya bisa diubah menjadi biomassa yang bermanfaat. Jadi, jangan langsung ilfeel ya saat mendengar kata “belatung”, SaintPaulers. Justru makhluk kecil inilah pahlawan pengelola sampah yang sangat ramah lingkungan!

Serunya Praktik Budidaya

Setelah sesi teori, keseruan praktik pun dimulai. Para peserta terlebih dahulu belajar memilah sampah menjadi kategori organik dan anorganik. Sampah organik, seperti sisa sayuran dan buah, dipotong kecil-kecil agar lebih mudah dicerna oleh maggot. Sementara itu, sampah anorganik dipisahkan sesuai jenisnya. Dari proses ini, peserta belajar bahwa pengelolaan sampah yang baik harus selalu dimulai dari pemilahan yang tepat.

Tidak berhenti di situ, para peserta juga mempelajari seluruh siklus hidup budidaya maggot. Mulai dari telur yang menetas dalam waktu tiga hingga lima hari, hingga perawatan larva yang harus diberi pakan organik secara rutin sambil menjaga kebersihan, kelembapan, dan sirkulasi udara medianya. Setelah berusia sekitar dua minggu, maggot yang kaya nutrisi ini siap dipanen. Menariknya, sebagian maggot sengaja dibiarkan tumbuh menjadi lalat dewasa agar bisa bertelur kembali dan menghasilkan generasi baru. Dengan begitu, siklus budidaya ini bisa terus berputar tanpa henti!

Mengapa Memilih SMAK Santo Paulus?

Kamu penasaran tidak, mengapa Enviro School Care memilih sekolah kita sebagai tempat sosialisasi? Yuk, kita dengar langsung penuturan dari Kak Shaneta Anindya Putri Darmawan, selaku Ketua Panitia!

“Jadi, saya dengar SMAK Santo Paulus sudah mulai ‘melek’ dengan isu lingkungan. Akhirnya, ketika sampai di sini, saya bertemu langsung dengan Bu Dina. Saya baru tahu kalau ternyata sekolah ini pernah mencoba membudidayakan maggot sebelumnya, tetapi kurang berhasil. Oleh karena itu, kami berniat membantu memperbaiki siklus budidaya tersebut agar kali ini bisa berjalan sukses,” jelasnya. Nah, jadi kalau nanti kalian sedang belajar atau main ke lantai 3 dan melihat banyak lalat berkumpul di sekitar tempat budidaya, jangan buru-buru disemprot Baygon ya, SaintPaulers! Mereka bukan tamu tak diundang, melainkan “orang tua” dari para maggot yang sedang berkembang biak untuk membantu sekolah kita mengolah sampah organik.

Jurnalis:

Josphine Patricia Zendrato

Aurentzia Veayviane

Foto:

Josphine Patricia Zendrato