Menulis Suara Hati

Di balik setiap kata, selalu ada cerita yang ingin disampaikan. Melalui artikel ini, murid-murid kelas X dan kelas XI dapat mengungkapkan berbagai rasa, pikiran, dan pengalaman dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna. Setiap puisi yang tersaji bukan hanya rangkaian kalimat, tetapi juga cerminan dari perjalanan batin yang berbeda-beda.

Pedoman Yang Diam

Oleh: Irene Wong kelas X-5

Teguh sekeras batu, halus selembut kapas

Dari beranjak sampai terbenam tak sekalipun kau tunjukkan lelah

Sering ku lewatkan hari tanpa berbincang

Tapi ku tau kau tetap rumah

Ayah,

Aku diam tapi aku tau di balik layarmu

Aku diam tapi aku tau lelahmu

Meski tak ada kata aku tau betapa kau memperhatikanku

Meski tak ada waktu aku tau kau tetap berusaha disisiku

Ayah,

Banyak yang kubenci dari sikapmu

Banyak yang membuatku takut padamu

Namun dibalik semua itu,

Banyak yang kuambil dari pribadi dan karaktermu

Kasih Tanpa Kata

Oleh: Patricia Lorenzo Handoko kelas XI-3

Seutas temali kasih terkait di antara kita

Tak ada lagi hasrat buas dalam diri ini

Cukup rasa puas tiap melangkah bersamamu

Hanya pemikiran dan obrolan kecil yang mengalir pas

Tas sekolah lucu yang kau bawa setiap hari

Polah usilmu yang selalu berhasil menggetarkan hatiku bak sebuah bas

Kuharap hari-hari sekolah tak kunjung tuntas

Ingin ‘ku terus menggenggam kuas kisah kita bersamamu

Ingin kutembus tiap batas di antara kita

Ingin kuhampiri dirimu setiap kelas usai

Ingin, ingin sekali engkau hadir melintasi seluruh ruang dan waktuku

Tak sadarkah engkau bahwa sikapmu telah meninggalkan bekas dalam hatiku?

Anehnya, aku sama sekali tak ingin menuntut balas

Saking indahnya, engkau terasa seperti mimpi indah dalam tidur pulasku

Sebagai penutup, kedua puisi di atas membuktikan bahwa suara hati tidak selalu harus diucapkan dengan lantang, kadang justru dalam keheningan dan kata-kata yang sederhana, terdengar getaran yang paling dalam. Puisi-puisi tersebut adalah potret jujur dari perasaan yang kerap tak terungkap.

Semoga tulisan-tulisan kecil ini bisa menjadi ruang bagi setiap murid untuk berani menyuarakan isi hati, karena setiap cerita, sekecil apa pun, itu layak untuk didengar dan dihargai.

Jurnalis:

Eleora Leonie Timothy Kelas X-5

Michelle Kaylyn Nathania Kelas X-5

Ilustrasi:

Michelle Kaylyn Nathania Kelas X-5