
Menghadapi tantangan era modern yang kian kompleks, remaja menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap ancaman penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA). Menanggapi urgensi tersebut, Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta sukses menyelenggarakan Webinar Hari Anti Narkotika Internasional pada tanggal 23 Juni 2026 lalu.
Webinar yang bertajuk “Bersama Lindungi Generasi: Edukasi dan Pemberdayaan Sekolah dan Orang Tua dalam Menangkal Penyalahgunaan Napza pada Anak dan Remaja” ini digelar secara daring dan diikuti oleh ratusan peserta, termasuk para pendidik, tenaga kependidikan, serta orang tua murid. Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan membangun benteng perlindungan yang kokoh demi masa depan generasi muda.
Melihat Adiksi dari Sisi Perkembangan Otak Remaja
Edukasi penting ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Materi pertama dipaparkan oleh dr. Wim Zweiryadinda, Sp.KJ., M.A.R.S., dengan mengangkat topik “Adiksi dan Otak Remaja: Pendekatan Neurobiologis dan Psikoedukasi untuk Orang Tua dan Sekolah”. Dalam penjelasannya, dr. Wim membedah fase remaja dari sudut pandang medis dan psikologis. Secara neurobiologis, bagian otak remaja yang disebut prefrontal cortex, berfungsi mengendalikan emosi, mengambil keputusan, serta mempertimbangkan risiko, ternyata masih dalam tahap perkembangan. Di sisi lain, sistem penghargaan (reward system) pada otak berkembang jauh lebih cepat. Ketimpangan perkembangan ini membuat remaja secara alami memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, gemar mencoba hal-baru, serta mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan.
Kondisi biologis tersebut menempatkan remaja pada risiko tinggi terhadap penyalahgunaan NAPZA, yang jika terjadi, dapat merusak perkembangan otak secara permanen dan memicu ketergantungan kronis. Oleh karena itu, dr. Wim menekankan bahwa pendekatan terbaik dari pihak sekolah dan orang tua bukanlah sekadar memberikan larangan keras atau hukuman, melainkan melalui komunikasi yang terbuka, edukasi yang tepat, serta penciptaan lingkungan yang aman dan suportif.
Deteksi Dini dan Kolaborasi Nyata di Rumah serta Sekolah
Materi kedua disampaikan oleh Elly Hotnida Gultom dengan tema “Penguatan Peran Keluarga dan Sekolah dalam Deteksi Dini Penyalahgunaan Napza”. Elly menggarisbawahi bahwa kunci utama keberhasilan pencegahan berada pada kolaborasi erat antara pihak rumah dan sekolah. Keluarga, sebagai lingkungan utama anak, memegang peran protektif paling kuat. Kehadiran orang tua yang peduli, komunikasi yang hangat, serta pengawasan yang proporsional secara signifikan mampu mereduksi potensi anak terjerumus ke perilaku berisiko.
Sementara itu, sekolah memegang peran strategis mengingat sebagian besar waktu aktif remaja dihabiskan di lingkungan belajar. Pendidik dan tenaga kependidikan dituntut memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan perilaku siswa demi melakukan deteksi dini. Beberapa indikator awal yang patut diwaspadai antara lain:
Penurunan prestasi belajar yang drastis,
Perubahan pola pergaulan secara tiba-tiba,
Sering melanggar aturan sekolah,
Perubahan emosi yang sangat ekstrem, hingga
Menurunnya motivasi belajar secara menyeluruh.
Dengan deteksi dini, tindakan intervensi dan pendampingan psikologis dapat segera dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi lebih parah.
Langkah Preventif Menuju Masa Depan Sehat
Melalui webinar ini, tersampaikan pesan kuat bahwa perlindungan anak dari bahaya NAPZA bukanlah tugas tunggal satu instansi. Sekolah tidak dapat berjalan sendiri tanpa komitmen dari keluarga, begitu pun sebaliknya. Sinergi dan kemitraan strategis inilah yang menjadi modal utama dalam meminimalkan risiko di kalangan remaja.
Bagi pihak sekolah, wawasan berbasis data biologis dan psikologis ini menjadi landasan penting untuk terus memperkuat program edukasi, mengoptimalkan layanan konseling, serta menggalakkan penguatan karakter siswa secara konsisten. Melalui edukasi yang tepat dan komunikasi yang efektif, diharapkan sekolah bersama orang tua dapat mewujudkan lingkungan tumbuh kembang yang sehat, aman, dan produktif demi melahirkan generasi emas bangsa yang bebas dari NAPZA.






