Bentengi Generasi Muda dari NAPZA

Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) masih menjadi ancaman nyata yang membayangi masa depan generasi muda, khususnya para remaja yang berada dalam fase pencarian jati diri. Merespons tantangan besar tersebut, sebuah webinar strategis dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) sukses digelar secara daring pada tanggal 30 Juni 2026 lalu.

Webinar yang mengusung tema “Rumah sebagai Ruang Aman: Parenting untuk Ketahanan Anak dan Remaja terhadap Napza” ini berhasil menarik perhatian ratusan peserta, mulai dari praktisi pendidikan, guru, hingga orang tua murid yang ingin memperkuat benteng pertahanan keluarga.

Membangun Resiliensi Anak di Era Digital

Sesi pertama webinar menghadirkan pakar psikologi, Ira Oktora Dwi Artati, M.Si., Psikolog, yang membawakan topik “Parenting di Era Tantangan: Menanamkan Resiliensi pada Anak dan Remaja terhadap Pengaruh Napza”.

Dalam pemaparannya, Ira menekankan bahwa tameng utama anak dalam menangkal pengaruh buruk lingkungan adalah resiliensi—yaitu kemampuan psikologis untuk bertahan, bangkit, dan mengambil keputusan yang tepat saat menghadapi tekanan. Di era digital saat ini, arus informasi dan pengaruh negatif dari media sosial masuk ke kamar anak dengan sangat mudah, sehingga tantangan pengasuhan menjadi berkali-kali lipat lebih kompleks.

Menurut Ira, pondasi terbaik untuk membangun resiliensi ini adalah komunikasi yang terbuka dan penuh empati di rumah. Anak yang merasa diterima, dihargai, dan didengarkan oleh orang tuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Modal mental inilah yang membuat mereka berani berpikir kritis dan tegas mengatakan “tidak” saat dihadapkan pada ajakan penyalahgunaan NAPZA. Poin penting lainnya adalah bijaksana dalam melakukan pengawasan tanpa harus merusak rasa percaya kepada anak.

 

Pengasuhan Suportif dan Pendampingan Tanpa Stigma

Memasuki sesi kedua, Dr. Ns. Heni Dwi Windarwati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., membedah sisi penanganan melalui materi berjudul “Parenting Suportif: Mendampingi Anak dan Remaja yang Terpapar Penyalahgunaan Napza”. Dr. Heni mengingatkan para orang tua agar tidak langsung memberikan penghakiman, hukuman ekstrem, atau stigma negatif jika menemukan anak yang telanjur terpapar. Penyalahgunaan NAPZA merupakan persoalan kompleks yang melibatkan faktor biologis, psikologis, hingga sosial. Oleh karena itu, langkah awal yang harus diambil adalah menghadirkan ruang penerimaan, ketenangan, dan komunikasi yang berorientasi pada solusi.

Orang tua diharapkan peka terhadap indikator perubahan perilaku anak, seperti penurunan prestasi belajar secara mendadak, perubahan drastis pada kestabilan emosi, dan pola pergaulan yang tidak biasa. Dr. Heni menegaskan bahwa proses pemulihan anak tidak bisa bertumpu pada layanan kesehatan semata, melainkan sangat bergantung pada kualitas hubungan emosional yang harmonis dan penuh kasih sayang di dalam keluarga. Pemulihan yang efektif merupakan kerja bersama yang melibatkan sinergi erat antara keluarga, sekolah, konselor, dan tenaga medis.

Sinergi Kuat Sekolah dan Keluarga

Webinar ini membawa pesan reflektif yang mendalam bagi seluruh peserta, khususnya para pendidik di sekolah. Pencegahan NAPZA tidak akan pernah cukup jika hanya mengandalkan sosialisasi satu arah mengenai bahaya narkoba. Upaya ini harus dimulai secara konkret dari kehangatan sebuah rumah.

Bagi pihak sekolah, momentum ini mempertegas peran guru yang tidak sekadar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan di kelas, tetapi juga wajib membangun hubungan positif dan menjadi pendengar yang baik bagi peserta didik. Melalui kolaborasi dan komunikasi dua arah yang intensif antara sekolah dan orang tua, lingkungan belajar yang aman dan suportif bagi karakter siswa dapat terwujud seutuhnya. Menjadikan rumah dan sekolah sebagai ruang aman yang utuh adalah investasi terbesar untuk mengawal tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang sehat, tangguh, dan bertanggung jawab demi masa depan bangsa.