Eksistensi Politik SARA

Isu SARA adalah isu yang eksistensinya terbilang sensitif dan sampai saat ini masih menjadi persoalan di Indonesia. Persoalan terkait dengan SARA ini akan menjadi persoalan yang rumit dan bisa berdampak buruk pada kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki banyak sekali perbedaan. Salah satu hal yang terlihat ada dalam Pilkada DKI Jakarta. Politik SARA tampaknya begitu marak digunakan untuk menyerang dan menguntungkan calon tertentu.

Seharusnya orang-orang yang terlibat dalam Pilkada DKI Jakarta bisa menggunakan cara yang adil dalam bersaing. Hal ini karena sistem demokrasi yang ada di Indonesia akan menjadi sia-sia jika pihak yang terlibat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Salah satunya dengan menggunakan isu SARA Keberadaan isu semacam ini sangat meresahkan masyarakat. Dampaknya juga dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat. Politik SARA yang ada dalam Pilkada DKI Jakarta dapat diketahui dan dirasakan dampaknya oleh orang-orang di luar Jakarta. Hubungan masyarakat menjadi tidak harmonis, masyarakat mudah terpecah-pecah, terjadi disintegrasi masyarakat, dan maraknya sikap diskriminatif terhadap beberapa golongan tertentu.

Politik ini bisa mengantarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh keberagaman menuju ambang kehancuran, sedangkan politik uang tidak memilki efek yang berkepanjangan serta tidak mengakibatkan disintegrasi masyarakat. Pengamat Politik Ray Rangkuti menganggap bahwa politik Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) adalah politik yang jauh lebih berbahaya dari politik uang. Menurutnya, hal yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta telah menunjukkan betapa berbahayanya Politik SARA. Selain itu, Ray juga memprediksi bahwa politik SARA nantinya akan kembali digunakan pada 171 daerah. Ia juga mengatakan bahwa penggunaan isu SARA akan banyak didapati pada Pemilihan Presiden 2019.

Kekhawatiran tentang Politik SARA cenderung mengalami peningkatan diakibatkan oleh Pilkada DKI Jakarta awal 2017 di mana beberapa oknum masyarakat beragama Islam memanfaatkan isu SARA untuk menyudutkan salah satu gubernur saat itu. Permasalahan etnis menjadi akar dari berbagai masalah. Isu-isu semaca ini menjadi bahan yang mudah untuk “dimanfaatkan” menjadi sebuah senjata dalam mencapai tujuan politik tertentu.

Menurut Bawaslu, ada empat modus politisasi SARA dan kampanye hitam. Pertama, pidato politik yang cenderung mengarah pada isu SARA. Kedua, berbagai ceramah provokatif di tempat ibadah atau tempat publik. Ketiga, spanduk calon kepala daerah yang memiliki pesan tersirat berbau SARA. Keempat, maraknya penyebaran ujaran kebencian oleh akun-akun palsu di media sosial.

Faktanya, larangan politisasi SARA telah ada tertulis dalam UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada. Pada Pasal 69 huruf b, dijelaskan bahwa dalam kampanye dilarang menghina seseorang, agama, suku, ras, dan golongan calon kepala daerah dan atau partai politik. Selain itu, Pasal 69 huruf c juga melarang adanya kampanye yang sifatnya menghasut, memfitnah, dan mengadu domba partai politik, perseorangan, dan/atau kelompok masyarakat. Sanksi juga telah diatur dalam Pasal 187 Ayat (2). Orang yang melanggar hukum tersebut bisa dipenjara paling singkat 3 bulan atau paling lama 18 bulan serta denda paling sedikit Rp 600.000 dan paling banyak Rp 6.000.000.

Oleh karena itu, sikap jujur dan lapang dada harus dipupuk sedari dini agar bisa mengurangi kemungkinan terjadinya perpecahan karena Politik SARA yang berbahaya. Kita harus mau menyadari bahwa semua suku, ras, dan agama seseorang itu baik adanya. Lebih baik jika kita mau menyaring hal-hal negatif terkait dengan isu SARA agar dapat menjalani hidup yang bahagia sebagai warga negara di Indonesia yang memiliki banyak sekali perbedaan. Kita harus bisa mengetahui dan menyadari kampanye hitam pada saat menjelang Pilkada agar kita juga tidak terjebak di dalamnya. Selain itu, kita juga harus mengingat konsekuensi apa yang akan kita peroleh atas apa yang kita perbuat. Peraturan dan hukum sudah dibuat sedemikian rupa untuk menurunkan kemungkinan dilakukannya Politik SARA.

Oleh: Syalom Alicia M.S. / Kelas XII IPS 2