
“Sastra adalah cermin kehidupan.”— Pramoedya Ananta Toer
Heyy SaintPaulers! Biasanya pelajaran Bahasa Indonesia identik dengan membaca teks atau mengerjakan analisis, kali ini kelas XI-2 justru dibuat masuk langsung ke dalam kehidupan seorang tokoh, lho! Lewat tugas monolog, setiap murid diminta membawakan satu tokoh dengan seluruh cerita, emosi, dan perjuangannya di depan kelas. Mulai dari tokoh perjuangan bangsa, aktivis, hingga tokoh agama, semuanya berhasil dihidupkan kembali oleh murid XI-2. Wahhh, kelas XI-2 kali ini benar-benar berubah jadi panggung teater😮
Penampilan monolog ini wajib dilakukan oleh seluruh murid kelas XI-2, mulai dari absen 1 sampai 34 sesuai jadwal yang telah ditentukan. Penampilan berlangsung mulai tanggal 30 April hingga 19 Mei. Jadi, setiap pertemuan Bahasa Indonesia dipergunakan untuk penampilan, guisss.
Awalnya, ada keraguan dari sang guru Bahasa Indonesia, Pak Ujang Sarwano. “Awalnya saya ragu mereka bisa atau engga, namun ketika melihat penampilan Bryan Vincent Putra Bani dan Gwyneth Loreintan secara langsung, saya jadi terkagum dan sadar ternyata kelas XI-2 bisa melakukannya,” ujar beliau. Dan ternyata benar, para murid berhasil menunjukkan penampilan yang jauh lebih keren dari ekspektasi.
Monolog dibuka oleh penampilan pertama dari Bryan Vincent Putra Bani yang memerankan Ismail Marzuki. Penampilannya langsung mencuri perhatian karena persiapannya yang totalitas banget, lho! Bryan membawa ukulele sebagai pengganti biola milik Ismail Marzuki, lalu menutup penampilannya dengan nyanyian merdu yang membuat suasana kelas jadi semakin hidup.

Nah, tujuan utama dari tugas monolog ini adalah agar murid dapat lebih memahami sastra secara mendalam. Lewat monolog, murid tidak hanya membaca cerita, tetapi juga mencoba memahami emosi, pemikiran, dan kehidupan tokoh yang mereka bawakan. Karena ternyata, sastra bukan cuma soal teori di buku paket, tetapi ada cerita yang bisa dipahami, dirasakan, bahkan dihidupkan kembali melalui setiap tokoh yang diperankan.
Nah, ngomong-ngomong soal tokoh, tokoh yang diperankan murid XI-2 sangat beragam, lho. Banyak yang membawakan tokoh perjuangan bangsa Indonesia seperti Kartini, Marsinah, Martha Christina Tiahahu, Soekarno, Mohammad Hatta, hingga Soe Hok Gie. Ada juga yang memerankan Margaret Thatcher dengan bahasa inggris, lho! Keren banget, kan! Tapi tidak berhenti sampai di tokoh perjuangan atau politisi saja, ada juga yang memerankan Mother Teresa hingga tokoh Maria Zaitun yang memiliki kehidupan penuh luka dan penolakan sosial. Benar-benar beraneka ragam dan penuh tantangan.

Persiapan mereka pun nggak main-main. Demi mendalami karakter, ada murid yang sampai membeli kemeja putih khusus untuk diwarnai merah agar menyerupai darah saat memerankan Marsinah. Ada juga yang rela membeli jam hanya untuk dirusak demi kebutuhan properti monolognya. Bahkan, beberapa murid sampai mewarnai tubuh mereka dengan warna merah atau putih pucat supaya terlihat seperti luka, lebam, atau penyakit kulit rajasinga. Totalitas mereka benar-benar terlihat dari detail-detail kecil yang mereka buat.
Di balik penampilan yang keren, tentu ada proses persiapan yang nggak gampang juga. Gwyneth Lorraine Tan yang memerankan Marsinah membagikan pengalamannya, “Sebelum bermain peran, saya perlu mempersiapkan teks dulu yang sesuai sama karakter Marsinah, terus dua hari sebelumnya latihan sendiri di kamar. Awalnya gugup banget sampai kayak mau muntah, tapi pas menjalani performance-nya malah jadi biasa aja dan fokus melakukan yang terbaik. Habis selesai tuh rasanya lega banget karena sudah nggak ada tanggungan lagi.”
Melalui kegiatan ini, Pak Ujang juga berharap murid bisa lebih banyak membaca dan memahami sastra. “Lebih banyak memahami, membaca, belajar mengenai sastra. Karena melalui sastra akan membuat pikiran terbuka,” ujarnya.
Nah SaintPaulers, ternyata mendalami tokoh lewat monolog bukan cuma soal tampil di depan kelas, tapi juga belajar memahami kehidupan dari sudut pandang orang lain. Jadi kalau kalian penasaran gimana serunya mendalami peran atau ingin mengenal tokoh lebih dalam, coba aja bilang ke guru Bahasa Indonesia kalian, “Bu, Pak… monolog yuk!” Biar kalian juga merasakan sendiri asyiknya masuk ke dunia sastra. Segitu dulu keseruan sastra kali ini, see u di next cerita seru lainnya! ✨🙌
Jurnalis:
Josephine Patricia Zendrato Kelas XI-2
Foto:
Felicia Evelyne Santoso Kelas XI-2
Vanessa Lianto Kelas XI-2
Kayren Lie Sasongko Kelas XI-2






