Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan Mitigasi Bencana

Kasih merupakan dasar hidup umat Katolik yakni kasih kepada Tuhan dan sesama. Kasih terhadap sesama dapat diwujudkan salah satunya lewat pelayanan. Sebagai umat Kristiani yang dipanggil untuk memiliki hati untuk melayani dapat diwujudkan lewat bantuan yang diberikan saat orang lain sedang dalam bahaya atau kesusahan dan membutuhkan pertolongan.

Hal inilah yang menjadi dasar Gereja Katolik Santo Yusuf Jember mengadakan pelatihan hidup dasar dan mitigasi bencana yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 November 2025. Setiap lingkungan diwajibkan mengirim tiga petugas tata tertib untuk mengikuti pelatihan tersebut. Pihak Gereja bekerja sama dengan Siloam Hospital dan Caritas untuk menyukseskan agenda pelatihan ini. Acara dimulai pada pukul tujuh pagi dengan pemeriksaan gratis bagi lima puluh orang pertama yang hadir.

Sesi pertama tentang pelatihan hidup dasar dengan narasumber tim dari Siloam Hospital. Materi yang disampaikan yakni tentang bagaimana memberikan pertolongan bagi mereka yang sedang dalam kondisi kritis atau tidak sadarkan diri, dan tersedak.

Henti jantung adalah kondisi fatal ketika aliran darah berhenti sehingga oksigen tidak mencapai organ vital. Kekurangan oksigen bisa menyebabkan kerusakan dan kematian sel-sel otak hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang cepat dan benar sangat menentukan keselamatan nyawa korban. Tahapan pertama dalam memberikan pertolongan adalah memastikan kondisi yang disebut dengan 3A, yaitu aman bagi penolong, aman bagi pasien, dan aman bagi lingkungan. Penolong harus memastikan tempat atau lokasi korban yang akan ditolong aman begitu pula orang yang menjadi penolonng. Setelah memastikan semuanya aman, penolong perlu memeriksa kesadaran korban melalui metode AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive) dengan memberi rangsangan suara, menepuk bahu, hingga memberikan rangsangan nyeri dengan menggunakan kepala tangan ditekan pada bagian dada korban.

Jika korban tidak responsif, langkah berikutnya adalah memanggil bantuan atau melakukan emergency call dengan menyebutkan identitas penolong, identitas korban bila diketahui, lokasi kejadian, dan kronologi singkat. Selama menunggu bantuan, penolong harus terus melakukan tindakan pertolongan. Penolong perlu memeriksa nadi dan napas secara simultan maksimal 10 detik serta perlu memperhatikan bahwa penurunan kesadaran dapat menyebabkan lidah jatuh ke belakang sehingga menghambat jalan napas. Apabila korban tidak bernapas dan tidak memiliki nadi, penolong harus segera melakukan Resusitasi Jantung-Paru.

Kompresi dada dilakukan sebanyak 30 kali pada ½ bagian bawah tulang dada dengan kecepatan 100–120 kali per menit dan kedalaman 5 cm. Penolong perlu menjaga posisi tubuh tetap tegak, tangan lurus, dan memastikan recoil sempurna. Setelah kompresi 30 kali, dilakukan dua kali ventilasi mouth-to-mask. Satu siklus ini terdiri atas 30 kompresi dan dua ventilasi, dilakukan selama 5 siklus (sekitar 2 menit) sebelum evaluasi ulang yakni memerikas apakah ada napas dan nadi kembali. Jika korban bernafas dan nadi kembali, korban harus ditempatkan pada recovery position.

Selain memberikan pelatihan tentang resusitasi jantung paru, tim dar Siloam Hospital juga memberikan pelatihan tentang tersedak. Dalam kasus tersedak, kondisi ini merupakan situasi gawat darurat yang terjadi akibat dari sumbatan benda asing pada jalan napas. Kondisi ini tergolong kondisi gawat darurat dan membutuhkan penanganan yang mendesak. Tanda bahaya sumbatan napas total meliputi tidak bisa batuk, tidak bisa bersuara, sulit bernapas, wajah berubah kebiruan, hingga penurunan kesadaran. Penanganannya dapat berupa back blow lima kali, chest thrust, atau Heimlich maneuver.

Terdapat perbedaan penanganan antara dewasa, anak, dan bayi, terutama pada teknik dan kedalaman kompresi. Untuk anak lebih dari 2 tahun, teknik dewasa dapat diterapkan. Kompresi menggunakan 1 tangan bagi korban anak dan ibu jari (2 tangan) untuk korban bayi. Kedalaman kompresi 5 cm pada anak dan 4 cm pada bayi. Jika ada 1 penolong, 1 siklus yaitu 30:2. Jika 2 penolong, 1 siklus yaitu 15:2

Setelah sesi pertama selesai, dilanjutkan dengan sesi kedua dari Caritas tentang mitigasi bencana. Selain memberikan materi, para peserta pelatihan juga diberi kesempatan untuk melakukan simulasi. Simulasi dilaksanakan di aula dan di dalam serta area sekitar gereja. Pelayanan kasih Caritas merupakan bagian dari misi gereja untuk menghadirkan kasih Tuhan melalui tindakan nyata, termasuk dalam penanganan dan mitigasi bencana. Dalam pelatihan mitigasi, peserta pelatihan belajar mengenai pentingnya bagi setiap keluarga memiliki atau menyediakan tas siaga bencana yang berisi kotak P3K berisi obat-obatan, masker, hand sanitizer, sarung tangan, makanan dan minuman untuk asupan pascabencana minimal tiga hari, Handphone dan Charger untuk memberi informasi dan mencari bantuan, dokumen pribadi dan uang tunai untuk bekal selama tiga hari, pakaian lengkap selama tiga hari, senter dan batrai tambahan, radio portable sebagai sumber informasi terbaru.

Saat gempa terjadi, langkah utama yang perlu dilakukan adalah mencari tempat berlindung, melindungi kepala, dan menjauhi jendela. Saat terjadi keadaan darurat harus memperhatikan arahan tanda jalur evakuasi untuk menuju titik kumpul. Hal yang perlu diselamatkan terlebih dahulu adalah diri sendiri baru setelahnya bisa menyelamatkan kelompok rentan yakni anak, bayi, lansia, dan wanita hamil.

Pelatihan ini memberikan pemahaman bahwa kesiagaan dan keterampilan dasar penyelamatan dapat menyelamatkan nyawa serta meminimalkan risiko bencana. Dengan mengikuti pelatihan ini, umat Paroki Santo Yusuf Jember diharapkan menjadi lebih siap menghadapi keadaan darurat dengan tindakan yang cepat, tepat, dan bertanggung jawab.

Fotografer: Christophorus Raditya Herliano