
“Dance is the hidden language of the soul.”
— Martha Graham
Hai hai, SaintPaulers! Pernah nggak sih kepikiran kalau sebuah tarian itu bukan cuma soal gerakan yang kompak atau musik yang enak didengar, tapi juga bisa menyampaikan cerita? Nah, sepanjang bulan April ini, murid kelas XI sedang mempelajari cara menyampaikan cerita melalui seni tari, lho! Kira-kira apa saja sih yang mereka pelajari dan bagaimana sih hasil pembelajaran mereka? Yuk, kita intip!
Pada (28/04/2026), penilaian seni tari resmi dimulai. Aula sekolah pun berubah jadi panggung kreativitas para murid kelas XI. Dua kelas pertama yang mendapat kesempatan tampil adalah kelas XI-1 dan XI-2, sementara kelas lainnya akan menyusul di hari-hari berikutnya. Sepanjang bulan ini, aula bukan cuma jadi tempat berkumpul, tapi juga jadi saksi lahirnya karya-karya tari penuh kreativitas.

Seperti yang kita tahu, seni tari merupakan salah satu bentuk untuk mengekspresikan diri melalui penggabungan gerakan dan irama musik. Nah, seni tari inilah yang akhirnya dijadikan sebagai salah satu bentuk pencurahan emosi oleh kelas XI yang ditampilkan pada hari tersebut.
Menariknya, dalam penilaian kali ini para murid tidak hanya diminta menampilkan tarian yang sudah ada. Untuk pertama kalinya, mereka harus mengonsep tarian mereka sendiri. Mulai dari menentukan tema, memilih musik, menyusun gerakan, hingga membangun alur tarian, semuanya dirancang bersama kelompok masing-masing.
Tidak berhenti di situ, para murid juga ditantang untuk mix and match lagu agar sesuai dengan konsep yang mereka buat. Lagu-lagu yang dipilih kemudian digabungkan dan disusun sedemikian rupa supaya bisa mendukung suasana serta cerita yang ingin dibangun dalam tarian tersebut.
Ibu Claudia Nindya Pramesthi selaku guru seni tari punya standar yang gak main-main nih. Ada empat aspek yang wajib dikuasai para murid, yaitu wiraga, wirama, wirasa, dan harmoni kelompok. Simpelnya nih, wiraga itu soal kualitas gerak yang gak boleh kaku, wirama itu soal ketepatan gerak dengan irama musik, wirasa menuntut penghayatan ekspresi, dan pastinya harmoni alias kekompakan satu tim menjadi sorotan utama.

Memang sih kelihatannya seru, tetapi prosesnya penuh drama dan perjuangan, lho! “Mereka biasanya kesulitan dalam mengeksplorasi gerak. Dengan kata lain, mereka bingung menciptakan gerak dan menggabungkan gerak satu dengan yang lainnya. Selain itu, mereka susah untuk menghayati sehingga wirasa sulit dicapai dengan sempurna,” ungkap Bu Ninin.
Wah, SaintPaulers, ternyata melalui penilaian seni tari ini para murid tidak hanya berkembang dalam keterampilan menari, tetapi juga kreativitas, keberanian, dan kerja sama dalam melancarkan penilaian seni tari ini. Karena pada akhirnya, segala tenaga dan ide yang dicurahkan dapat menjadi sebuah kenang-kenangan dimana kami pernah mencurahkan isi hati kami melalui gerakan-gerakan yang lihai. Sampai sini dulu perjumpaan kita SaintPaulers, see you!
Jurnalis:
Josephine Patricia Zendrato Kelas XI-2
Aurentzia Veayviane Kelas XI-1
Patricia Lorenza Handoko Kelas XI-3
Foto:
Vanessa Lianto Kelas XI-2






