
“Nothing lasts forever, but at least we got these memories.” — J. Cole
Heyyo, Saintpaulers! Siapa sangka, dari sebuah kelas yang awalnya terasa biasa saja, ternyata bisa lahir begitu banyak cerita yang sulit dilupakan? Tawa, candaan, keributan, tumpukan tugas, hingga momen-momen random yang terjadi hampir setiap hari perlahan membuat kita semua terasa lebih dekat dan berwarna.
X-2, atau yang lebih dikenal dengan nama Mermed—singkatan dari Member Elite Bersama Sepuluh Dua—menjadi salah satu kelas dengan sejuta cerita unik di balik tema laut yang kami usung. Layaknya lautan, kelas ini memiliki banyak sisi. Kadang tenang, kadang ramai tidak terkendali, dan kadang juga penuh ombak kecil yang datang dari tingkah pola murid-muridnya sendiri. Dengan beranggotakan 32 murid dan didampingi wali kelas kami, Bapak Wahyu Dwi Aprianto, S.Pd., yang selalu sabar menghadapi dinamika satu kelas, Mermed perlahan berubah menjadi tempat yang bukan hanya sekadar ruang belajar, melainkan juga rumah bagi tumbuhnya kebersamaan.
Pada awal semester, kelas kami bisa dibilang cukup sepi. Belum banyak dari kami yang benar-benar akrab satu sama lain; semua masih sibuk dengan dunianya masing-masing. Namun seiring berjalannya waktu, terutama ketika semakin banyak kegiatan dan momen yang dilewati bersama, perlahan suasana canggung itu mencair. Mereka yang awalnya hanya berstatus teman sekelas, kini berubah menjadi orang-orang yang rasanya sulit untuk tidak dirindukan.

Di kalangan para guru, X-2 juga memiliki reputasi tersendiri. Uniknya, kami dikenal bukan karena menjadi kelas yang paling aktif saat pelajaran berlangsung, melainkan justru karena kebalikannya. Banyak guru sering bertanya-tanya mengapa kelas kami begitu diam dan pasif ketika pembelajaran berlangsung. Namun lucunya, atmosfer kelas langsung berubah drastis begitu guru melangkah keluar ruangan. Dalam hitungan detik, kelas yang tadinya sunyi senyap bisa mendadak berubah riuh bak “kebun binatang” dengan suara tawa dan candaan di mana-mana. Mungkin, itulah salah satu ciri khas Mermed yang paling membekas di benak para guru.
Di balik keramaian tersebut, X-2 juga cukup menonjol karena dihuni oleh banyak murid yang berbakat di bidangnya masing-masing. Ada yang unggul dalam bidang akademik dan konsisten meraih nilai baik, ada pula yang aktif serta berprestasi di bidang nonakademik seperti olahraga. Bahkan, beberapa murid di kelas kami juga dipercaya menjadi bagian dari tim lomba basket sekolah. Keberagaman potensi inilah yang membuat suasana kelas terasa sangat berwarna karena setiap individu membawa keunikannya sendiri.
Setiap hari rasanya selalu ada saja hal yang bisa ditertawakan bersama, entah itu karena kejadian lucu, candaan receh, hingga aksi saling mengejek khas remaja. Namun di balik semua keseruan itu, kami tetap saling memahami batas satu sama lain. Kami tahu kapan harus bercanda dan kapan harus serius. Memang tidak selalu mulus; kadang ada perbedaan pendapat dan momen ketika kelas terasa kurang solid. Namun pada akhirnya, kami selalu punya cara untuk kembali tertawa bersama seperti biasa.
Banyak momen sederhana yang akhirnya bertransformasi menjadi kenangan paling berharga bagi kami. Mulai dari keseruan lomba kemerdekaan, acara makan-makan bersama, momen kompak menghias kelas, kegiatan PPS, hingga ajang class meeting yang tetap terasa seru walaupun kami belum berhasil membawa pulang trofi kemenangan. Bahkan, kegiatan bimbingan seksual di Aula Shanti (Rayap) yang hanya berlangsung sehari pun meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Dari rentetan kegiatan tersebut, kami belajar bahwa kebersamaan dan kerja sama ternyata bisa membuat hal-hal sederhana terasa begitu menyenangkan.

Kesan serupa juga dirasakan oleh salah satu penghuni X-2, Yenas. Ia mengungkapkan bahwa awalnya suasana di X-2 terasa cukup membingungkan karena semua orang belum terlalu saling mengenal. Namun seiring berjalannya waktu, atmosfer kelas mulai terasa sangat nyaman karena dipenuhi oleh banyak momen seru dan menyenangkan. Selama satu tahun berproses bersama Mermed, ia merasa telah mendapatkan banyak pengalaman berharga dan kenangan manis yang akan sulit untuk dilupakan.
Di balik semua dinamika cerita itu, Pak Wahyu selaku wali kelas juga selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi kami. Beliau sering kali membaur bersama agar suasana kelas terasa lebih hangat, nyaman, dan dekat. Nasihat untuk tetap aktif, berbuat baik, serta tidak membuat masalah selama di sekolah juga tidak pernah bosan beliau ingatkan kepada kami. Meski begitu, tentu saja kelas kami tidak selalu menjadi kelas yang paling teladan dalam hal kedisiplinan. Ada kalanya beberapa murid harus pasrah mengenakan rompi pelanggaran, hingga membuat guru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kami.
Namun mungkin, justru dari perpaduan segala kekurangan, keributan, dan candaan itulah kelas X-2 Mermed ini terasa begitu hidup. Sekarang, tanpa terasa satu tahun di X-2 sudah dipenuhi oleh begitu banyak cerita penutup. Dari yang awalnya hanya sekumpulan murid canggung yang asyik dengan dunianya masing-masing, perlahan kami tumbuh menjadi satu kesatuan kelas yang penuh warna dan kebersamaan. Masih ada perjalanan panjang yang akan kami lalui ke depannya, tetapi semua momen di Mermed akan tetap menjadi bagian komparasi yang paling berharga bagi kami.
Entah nanti di masa depan kami akan tetap sedekat ini atau tidak, satu hal yang pasti: X-2 bukan sekadar nama kelas biasa. Mermed telah menjadi saksi bisu tempat lahirnya banyak tawa, pelajaran berharga, kekacauan yang dirindukan, dan memori indah yang suatu saat nanti pasti akan kami tengok kembali. Semoga setiap momen yang pernah tercipta di kelas ini dapat menjadi pelajaran berharga dan langkah awal menuju perjalanan yang lebih hebat di tahun-tahun berikutnya!
Jurnalis:
Xylenn Pricilla Kwee Kelas X-2






