Dari Sampah Organik ke Cairan Ajaib

Siapa sangka sisa potongan sayur dan buah di dapur bisa menjadi cairan serbaguna? Itulah keajaiban dari Eco Enzyme, cairan multifungsi dari proses hasil fermentasi. 

Nah finally, pada Rabu, 04 Desember 2025 kemarin kelas 12 melakukan pemanenan Eco Enzyme loh guys! Pada tahap ini campuran sederhana dari limbah organik, gula, dan air berubah menjadi larutan cokelat setelah melewati proses fermentasi selama 3 bulan. Ketika tutup wadah dibuka, aroma segar pun mulai tercium sekaligus menjadi tanda keberhasilan dalam proses pembuatan Eco Enzyme alias EE. Ayo kita simak keseruan proses panen Eco Enzyme yang mereka lakukan!

Panenan kali ini benar-benar menunjukkan hasil yang optimal. Dari semua kelas yang melakukan panen, semuanya berhasil! Cairan yang dihasilkan berwarna cokelat dengan aroma fermentasi asam-manis yang segar, khas buah. Tidak ada tanda-tanda kegagalan seperti jamur hitam yang merusak. Hanya terdapat lapisan tipis jamur putih yang justru menandakan fermentasi berjalan baik. Tekstur cairannya tidak lengket dan siap untuk disaring serta digunakan. 

Kalian mau tahu bagaimana kesannya membuat Eco Enzym, nggak? Yuk kita simak sharing dari salah satu murid yang mempraktekkan hal tersebut! “Kita mulai membuat EE pada 21 Oktober 2025 kemudian panennya, 3 Desember 2025. Selama proses pembuatan tersebut, tantangan yang kami hadapi adalah memastikan dengan teliti bahwa bahan-bahan telah ditimbang sesuai dengan perbandingannya serta wadah yang harus tertutup. Apabila wadah tidak rapat bisa gagal. Meskipun terlihat sulit, saya rasa pembuatan EE ini bermanfaat karena mengajarkan cara mengolah sampah organik menjadi produk yang berguna,” ucap Jevellyn Sugiarto kelas XII MIPA 3. 

Kabar baiknya, hasil panen yang sukses ini tidak hanya disimpan di sekolah. Sebagai bentuk kepedulian, sebagian Eco Enzyme hasil karya siswa telah dikirim untuk membantu korban erupsi Gunung Semeru. Cairan multiguna tersebut didistribusikan melalui perantara tim relawan dari Universitas Jember (UNEJ), yang aktif dalam penanganan dampak bencana. Langkah ini menunjukkan bahwa karya kecil dari ekosistem lantai tiga sekolah bisa memiliki dampak sosial yang nyata dan luas.

Lantas, apa saja manfaat Eco Enzyme untuk kondisi pasca-erupsi? “Eco Enzyme dapat digunakan untuk membersihkan rumah, sekolah, maupun masjid. Kandungan alkohol dan enzim di dalamnya mampu menguraikan polutan, sehingga efektif mengurangi debu serta menghilangkan bau. Selain itu, Eco Enzyme juga berpotensi membantu mengeringkan luka ringan dan meredakan gatal-gatal pada kulit,” ujar Dina Putu Ayu K., S.Pd., guru Biologi sekaligus pendamping dalam pembuatan Eco Enzyme.

Okayy, bagaimana pendapat kalian SaintPaulers? Tanpa kita sadari, Eco Enzyme memiliki banyak manfaat lebih dari yang kita ketahui ya! Nggak cuman memberikan murid pengalaman baru, tetapi juga bisa membantu saudara-saudari kita yang terkena musibah. Sesuatu yang menurut beberapa orang merupakan hal yang sepele, ternyata punya beribu manfaat yang luar biasa!

Maka dari itu teman-teman, yuk mulai lebih peduli dengan lingkungan sekitar dengan langkah-langkah kecil yang bisa kita lakukan dari rumah maupun sekolah. Seperti memilah sampah organik, mencoba membuat Eco Enzyme sendiri, hingga membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.. Semua itu adalah bentuk nyata bahwa kontribusi kecil dapat membawa perubahan besar! Semoga kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja ya SaintPaulers, tetapi menjadi kebiasaan baik yang terus kita kembangkan bersama sebagai generasi peduli lingkungan. Karena pada akhirnya, bumi yang bersih dan sehat bukan cuma tanggung jawab satu orang, tapi kita semua. 

Let’s be the generation that cares, acts, and inspires! See you di kesempatan selanjutnya SaintPaulers!

Jurnalis:

Jennifer Evelyn Kelas XII MIPA 2

Eleora Leonie Timothy X-5

Michelle Kaylyn Nathania X-5

Josepha Ernesta Regina Ticoalu Kelas X-6

Foto:

Eleora Leonie Timothy X-5

Michelle Kaylyn Nathania X-5