Rich Brian, Musik Hip-Hop, dan Kebebasan

Brian Imanuel Soewarno atau yang dikenal dengan nama panggung “Rich Brian” adalah seorang rapper muda Indonesia. Meski masih amat belia, namanya sudah meroket di blantika musik hip-hop internasional, hampir sejajar dengan nama-nama tenar seperti Eminem, Drake, Snoop Dog, Wiz Khalifa, dan lain-lain. Video-video lagunya beredar di beragam platform musik seperti Youtube, Spotify, dan Joox; antara lain Dat Stick (2016), Glow Like Dat (2018), Yellow (2019), Love in My Pocket (2020). Lagu-lagu tersebut telah ditonton hingga berjuta-juta kali. Sampai pertengahan tahun 2021 ini, Brian telah memiliki tiga album, yaitu: Amen (2018), The Sailor (2019), dan 1999 (2020). Bersama rumah produksi 88rising yang bermarkas di New York-AS, karir rapper yang lahir 3 September 1999 di Jakarta ini semakin menanjak, entah dalam menciptakan lagu atau berkolaborasi dengan rapper kelas dunia lainnya. Pada tanggal 7 Juli 2019 silam, anak muda berbakat ini sempat diundang ke Istana Bogor oleh Presiden Jokowi. Presiden mengapresiasi pencapaiannya, sambil berharap agar muncul pula semakin banyak anak muda di Tanah Air yang sanggup berprestasi hingga ke mancanegara.

Namun, kesuksesan Brian tidak disambut positif semua kalangan. Salah satu kritik pedas pernah datang dari Dino Patti Djalal, mantan duta besar Indonesia untuk AS. Melalui akun twitter tanggal 16 Juli 2019, ia menyebut Brian tidak pantas dijadikan teladan bagi kaum muda Tanah Air. Mengapa? Djalal mensinyalir bahwa lagu-lagu Rich Brian sarat kata-kata kasar, pornografi, dan ungkapan yang merendahkan wanita. Sebagai seorang ayah, ia tak rela anak-anaknya mendengarkan lagu-lagu bermateri vulgar semacam itu. Sontak, Djalal pun diserbu netizen. Tokoh nasional seperti Ali Mochtar Ngabalin dan Triawan Munaf pun turut bersuara menentangnya. Djalal dinilai tidak berhak membatasi kebebasan bereksprei orang lain, apalagi orang muda yang sedang belajar untuk berkembang dan berprestasi.

Sampai di sini kita kebingungan menentukan siapa benar siapa salah, terlebih ketika persoalan ini dikaitkan dengan konsep modern kebebasan berekspresi. Pada satu pihak, Rich Brian jelas seorang musisi hip-hop. Aliran musik yang lahir sekitar akhir 1970-an di Amerika Serikat itu memang khas dengan penggunaan kata-kata yang kadang terdengar keras, vulgar, serta merendahkan. Di balik ekspresi kebahasaan tersebut rupanya ada sejarah kelam ketidakadilan struktural nan masif terhadap kaum minoritas kulit hitam di negeri itu. Para musisi yang lahir dari situasi demikian pun menemukan hip-hop sebagai suatu seni protes sekaligus seni mengaktualisasi diri; tempat katarsis tercipta dan kebebasan dijamin. Ketika pakem musik semacam ini diubah katakanlah dengan menghapus sampai habis kata-kata keras, vulgar, dan merendahkan cita rasa yang telah tertanam dalam hati penikmat hip-hop kemungkinan akan kehilangan nilai dan karakteristiknya (Bdk. melarang musik karena bertentangan dengan ajaran agama tertentu).

Pada pihak lain, kritik Dino Patti Djalal bukan tanpa kebenaran. Sebagai seorang ayah yang baik, ia ingin anak-anaknya tumbuh dan berkembang menurut adab dan tata krama yang benar. Memilih hiburan [musik] yang tepat merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. Ia pun mengingatkan kita bahwa cita rasa ketimuran yang kita hidupi seharusnya tidak dapat dipaksa untuk tunduk begitu saja pada pandangan-pandangan baru yang tak selaras konteks, termasuk yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Maka jika mantan diplomat itu menolak mengapresiasi Rich Brian, ia punya alasan yang cukup kuat dan patut dipertimbangkan.

Lepas dari polarisasi netizen Djalal yang berdebat tentang pantaskah Rich Brian diapresiasi, polemik di atas setidaknya mengarahkan kita untuk memaklumi bahwa ‘kebebasan’ sebetulnya merupakan konsep yang paradoksal. Di dalamnya kita temui dua sisi mata uang; bisa benar tepat, bisa salah melenceng. Tergesa-gesa menerima segala sesuatu atas nama kebebasan kiranya bukan sikap yang cukup bijaksana. Membaca kebebasan dari satu perspektif saja justru mengurung seseorang dalam ruang sempit keyakinan sepihak, yang dengan demikian malah akan membatalkan kebebasan itu sendiri. Ia pun menjadi ilusi atau sikap hidup yang palsu karena tidak kuat berakar.

Tahun ini kita merayakan HUT Proklamasi ke-76. Inilah saat tepat buat mengenang dan menegaskan kembali makna kemerdekaan. Orang-orang yang merdeka tentulah orang-orang yang bebas sebab memang hal merdeka (Lat. ‘libertas’) itu erat kaitannya dengan bebas (Lat. ‘liber’). Dalam hal ini, ungkapan bebas secara sederhana dipa-hami sebagai bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari belenggu pen-jajahan fisik, hendaknya tidak bikin lupa diri karena berbagai penjajahan non fisik pun masih terus berlaku. Bebas untuk menghidupi hak-hak sebagai warga negara pun hendaknya tidak lepas dari bebas untuk menjalankan kewajiban yang dituntut pula dari sana. Lagipula, perlu diinsyafi bahwa kebebasan yang baik adalah kebebasan yang tidak melampaui, mengganggu, atau merugikan kebebasan orang lain. Garis batas yang membedakan orang-orang merdeka dengan kaum penjajah terletak pada konsistensi menghargai kebebasan milik yang lain ini. Mudah-mudahan pemahaman serupa terdapat juga dalam diri anggota keluarga besar SMAK St. Paulus-Jember ini (Rm. Stef).

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-76…