Nasionalisme Masa Lalu dan Sekarang: Diantara Sejarah, Peristiwa, dan Membangun Pendidikan Karakter Bangsa Indonesia

Nasionalisme? Hal yang pertama kali ketika muncul jika mendengar kata ini adalah mutlak “Persatuan”. Sebab dalam pengalaman sejarah bangsa Indonesia, persatuanlah yang membawa bangsa ini mencapai impiannya “Indonesia Merdeka”.

Nasionalisme adalah suatu itikad, suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu “bangsa”. Nasionalisme merupakan nyawa pembentukan suatu kekuasaan (bangsa). Hal itu dipengaruhi karena rakyat Indonesia yang memang tertindas oleh Kolonial dengan politik “divide et impera” kala itu. Dengan Nasionalisme itu, rakyat melihat di hari kemudian itu sebagai fajar berseri-seri dan terang. Tidak lagi dipandang sebagai malam yang gelap gulita. Pendek kata, dengan nasionalisme yang demikian itu rakyat Indonesia akan bernyawa, akan hidup, dan tidak laksana bangkai seperti sekarang.

Rasa kebangsaan itulah yang kemudian mengalir dengan derasnya untuk segera mecapai Indonesia Merdeka. “Kemerdekaan itu ibarat seperti jembatan emas”, di seberang jembatan emas itu kesempatan untuk menciptakan masyarakat bangsa Indonesia yang kuat dan sehat, yang bebas merdeka untuk selama-lamanya.” Awal mula nasionalisme Indonesia tidak dapat diperkirakan .

Awal nasionalisme Indonesia merupakan fase yang baru mulai disuarakan dan diorganisasikan pada dasawarsa kedua abad ke-20. Akan tetapi, nsur-unsur pokok awal dari nasionalisme Indonesia sudah dapat ditemukan pada periode-periode sebelumnya, yaitu ketika dampak dari pemerintahan kolonial Belanda mulai dirasakan. Nasionalisme merupakan ideologi yang bersumber dari Dunia Barat, yang masuk melalui elite pribumi. Politik etis ketika itumemungkinkan munculnya kelompok baru yang dinamakan “priyayi baru”. Munculnya kelompok priyayi baru ini memunculkan pergerakan kebudayaan yang terorganisir yang dicetuskan antara 1906-1908

Hal yang penting diketahui adalah ciri khas dari nasionalisme bangsa Indonesia kala itu. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia seperti yang diutarakan Sukarno pada pidato monumentalnya tanggal 1 Juni 1945 adalah paham semua buat semua, yang bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi “semua buat semua”. Nasionalisme bangsa Indonesia juga nasionalisme yang bukan Chauvinisme atau jingo-nasionalisme yang agresif. Artinya, nasionalisme bangsa Indonesia adalah paham kebangsaan yang ingin merangkul semua golongan dalam kerangka persatuan nasional dan harus menuju pada kekeluargaan bangsa-bangsa di dunia (humanisme). Seperti kata Mahatma Gandhi “My Nationalism is Humanity”, artinya cinta tanah air adalah cinta pada umat manusia dan kemanusiaan, tanpa mengecualikan apapun.

Itulah sekelumit tentang nasionalisme bangsa Indonesia yang khas dan unik serta sebagai identitas yang membedakan dengan bangsa lainnya. Nasionalisme yang muncul akibat penindasan pemerintah kolonial Belanda selama berabad-lamanya telah menyadarkan bahwa perlunya merasa satu dalam kerangka persatuan nasional tanpa melihat segala perbedaan dan sebagai garda terdepan melawan penjajahan kolonial Belanda.

Kemerdekaaan adalah upaya untuk membebaskan dari dari belenggu penajajahan, yang masih berupa “jembatan emas” menuju cita-cita. Masa penjajahan Belanda memperlihatkan kepada kita tentang praktik penindasan, pembodohan, dan ketidakadilan.

Nasionalisme bangsa Indonesia kala itu sangatlah perlu dalam membangun nilai-nilai pendidikan karakter bangsa di era globalisasi ini. Dalam era reformasi ini hendaknya, nasionalisme diletakkan dalam konteks perubahan lokal dan global. Nilai-nilai kebangsaan dalam masa lalu tersebut dapat dijadikan refleksi untuk membangun pendidikan di era reformasi sekarang. Konteks kebangsaan dalam era reformasi ini tidak jauh berbeda dengan kala itu, namun penekannya adalah “semangat persatuan” dijadikan platform bagi pendidikan karakter di Indonesia dalam menjawab tantangan globalisasi. Sehingga melalui penanaman nilai-nilai tersebut, diharapkan tidak terjadi disintegrasi di segala bidang kehidupan. National and Character Building yang dicita-citakan oleh Sukarno sepatutnya menjadi fokus utama dalam pendidikan karakter bangsa Indonesia. sehingga kita bisa menjadi bangsa yang besar seperti kala itu. Tidak diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.

Tidak dapat dipungkiri, menengok kembali ke belakang tentang sejarah bangsa kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Masa lampau berciri heroisme, kejayaan, dan kebudayaan tinggi.

Senada yang dikatakan oleh Sukarno dalam sidang pledoinya “Indonesia Menggugat” bahwa Indonesia mempunyai kerajaan Majapahit yang dapat menaklukkan dan menyatukan semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatra sampai Maluku. Terdapat pula kerajaan Sriwijya yang menaklukkan negeri Semenanjung Malaka, Kerajaan Melayu, dan mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa.

Kejayaan masa lalu itu yang harus selalu kita ingat dalam mengahadapi tantangan globalisasi ini, dimana seluruh budaya dan pengaruh dari luar masuk ke Indonesia di segala bidang kehidupan. Upaya pembangunan nilai nasionalisme dalam pendidikan karakter bangsa justru bermasalah karena tidak ada keseriusan dari pihak pemerintah. Sungguh ironis melihat bangsa yang kaya akan sejarah, namun tidak bisa memiliki generasi yang berkarakter seperti generasi sejarahnya kala itu.

Semangat kebangsaan yang cerdas dan berwawasan luaslah yang harus segera dibangun dan diwujudkan, bukan model kebangsaan yang sempit. Realitasnya di zaman reformasi ini terkait dengan nasionalisme yaitu semangat kebangsaan akan muncul manakala ada tantangan dari luar (eskternal), sebaliknya yang bersifat ke dalam (internal) terkait dengan integrasi bangsa Indonesia sendiri jarang diperlihatkan dalam membangun kebersamaan terutama untuk meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan keadilan sosial.

Kerap kali di televisi dan media elektronik kita mendengar korupsi, pertikaian antar suku, pembunuhan, dan lain sebagainya. Artinya, masalah internal kebangsaan kita sedang bergejolak, ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar bangsa ini. Manusia-manusia tak berkarakter ini jelas buta akan masa lalunya. Persatuan yang dicita-citakan oleh The Founding Father’s digerogoti oleh generasinya sendiri. Menyedihkan! Inilah yang seharusnya menjadi renungan kita bersama sebagai bangsa yang penuh dengan keberagaman.

Tanpa mengetahui sejarahnya, suatu bangsa tidak mungkin mengenal dan memiliki identitasnya. Kesadaran sejarah merupakan sumber inspirasi serta aspirasi, keduanya sangat potensial untuk membangkitkan sense of pride (kebanggaan) dan sense of obligation (tanggung jawab dan kewajiban). Jelas manusia-manusia itu tidak memiliki sense of pride dan sense of obligation tentang masa lalunya.

Realitas seperti ini sungguh ironis bagi bangsa Indonesia yang memiliki sejarah. Bagi pemuda zaman sekarang, “sejarah” adalah untuk dikenang saja, merayakan peristiwa sejarah hanyalah ceremonial belaka tanpa dimaknai nilai-nilai yang terkandung. Padahal sejarah memiliki fungsi ganda yaitu memungkinkan manusia memahami masyarakat masa lalu dan meningkatkan penguasaannya terhadap masyarakat masa kini.

Nasionalisme yang harus dibangun adalah nasionalisme yang dilandasi pengetahuan dan pemahaman nilai sejarah yang telah teruji. Hikmah bahwa kita mempunyai hari yang terang benderang pada masa kerajaan Majapahit dan Sriwijaya seharusnya membuat bangsa ini sadar tentang kedaulatan negara, suatu unsur yang tidak bisa ditawar lagi kalau Indonesia mau dikatakan sebagai negara merdeka, tetapi juga untuk mewujudkan suatu kehidupan bangsa yang cerdas, masyarakat yang lebih sejahtera, dan berkeadilan sosial.
Nasionalisme pernah memperlihatkan wujud nyatanya dalam sejarah. Masa perang kemerdekan yang meletus sejak tahun 1945 hingga tercapai pengkuan negara nasional tahun 1949, merupakan bukti nasionalisme Indonesia.

Terlihat jelas sikap loyalitas yang diberikan kepada bangsa dari warga negaranya untuk mewujudkan nilai dan sikap kepahlawan, persatuan, solidaritas, dan pantang menyerah.