
“Beriman tapi berteman, jadi kalau ga punya banyak teman berarti belum berteman.”
—RP. Henrikus Suwaji, O.Carm.
Lho lho lho, emang bener ya kalau SMA Katolik Santo Paulus Jember baru aja kedatangan Bupati Jember?!
Hai hai, SaintPauluers! SMA Katolik Santo Paulus Jember kembali menghadirkan kegiatan Sarasehan Kebinekaan, lho. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada 27–28 Maret 2026. Fun fact, nih — acara ini merupakan acara sarasehan yang ketiga kalinya pernah diselenggarakan oleh sekolah kita. Untuk acara kemarin, tema yang diusung yaitu “Merawat Persaudaraan dalam Semangat SAHABAT (Solidaritas, Harmoni, Bersama dalam Toleransi)”.

Kegiatan dua hari tersebut nyata-nyata telah berhasil menjadi momen istimewa bagi kita semua, lho. Alasannya sederhana karena kita berkesempatan menjalin persahabatan bersama teman-teman dari Pondok Pesantren Al-Falah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Pondok Pesantren Darul Muqomah, dan Pondok Pesantren Nurul Chotib Al-Qodiri IV.
Selama dua hari satu malam, berbagai kegiatan dilaksanakan, mulai dari ibadah bersama sesuai keyakinan masing-masing, pembukaan acara oleh Kepala Sekolah, pembuatan pohon jari sebagai simbol “Unity In Diversity”, workshop media sosial, dan makan bersama. Puncak kegiatan pun dihadirkan melalui acara malam persaudaraan yang dikemas dalam bentuk acara api unggun.

Nah, saat memulai acara terdapat suatu hal yang menarik lho SaintPaulers! Acara diawali dengan ditampilkannya sebuah kanvas yang bergambar pohon tanpa daun. Pohon tersebut merupakan representasi dari identitas kita. Akar mencerminkan bangsa Indonesia yang berprinsip dan berfondasi kokoh. Namun, hidup kita masih seperti pohon yang hanya berakar dan beranting tanpa adanya dedaunan. Tentu saja membuatnya terlihat gersang, kan?
Eittttss…agar tidak gersang, tentu saja pohon tersebut perlu diberi dedaunan. Saat itulah, kegiatan unik dimulai, yaitu memehuhi setiap ranting pohon dengan sidik jari teman-teman kita yang mengikuti Sarasehan Kebhinekaan. WOW!! Apa sih maknanya? Sidik jari ini adalah simbol komitmen dan keyakinan bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus kita junjung tinggi demi keindahan persatuan. Terdapat enam warna berbeda untuk mencerminkan enam agama yang diakui di Indonesia lho SaintPaulers! Tulisan “Unity In Diversity” di bawah gambar pohon memiliki arti:walaupun kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, kita merupakan satu kesatuan dari akar yang kuat.

Nggak kalah menarik nih, di malam harinya, mereka berkumpul bersama dan menikmati kehangatan api unggun. Mereka berbincang, mendengarkan, bercanda, hingga bermain bersama dengan anggota kelompoknya. Dengan begitu, lingkaran persahabatan yang belum kita sadari perlahan-lahan terbangun di antara sesama peserta. Yang awalnya malu-malu, berakhir malu-maluin nggak tuhh? 😬😬 Uniknya, di Malam Persahabatan ini, tiap individu diajak untuk merenungkan dan merefleksikan diri jika selama ini ada kekeliruan pemahaman maupun sikap intoleran yang mampu merusak persahabatan. Dalem banget nggak si??
Tak kalah seru, di hari kedua mereka memulai harinya dengan senam pagi lalu dilanjutkan dengan mengerjakan proyek berupa konten video bersama kelompok sebagai bentuk aksi nyata toleransi umat beragama. Memangnya kegiatannya hanya itu?? Nggak dong! Mereka juga mendapatkan seminar dari narasumber inspiratif, yaitu K.H. Hodri Ariev dan RP. Henrikus Suwaji, O.Carm. serta ditutup dengan QnA bersama Bupati Jember. Wahh, menarik kan?

Nah, ada pepatah bilang belum kenal maka tak sayang, mari kita berkenalan dulu dengan tamu-tamu penting yang diundang pada acara sarasehan kali ini. Yup, mereka adalah Bupati Jember kita Bapak H. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., pengurus FKUB Jember, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Jember, para romo dari berbagai paroki, hingga tokoh-tokoh pendidikan dan keagamaan lainnya. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat kebinekaan ini mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, lhoo!
Lalu, kira-kira bagaimana ya tanggapan peserta acara untuk Sarasehan Kebinekaan kali ini? “Bagi saya kegiatan ini sangat menyenangkan dan penuh semangat untuk mengenal teman-teman yang berbeda agama. Acara ini menurut saya dapat membantu kita memperluas wawasan mengenai pentingnya toleransi,” ujar Ahmad Kunaifin sebagai salah satu santri dari Pondok Pesantren Dahrul Ulum yang ikut berpartisipasi dalam acara Sarasehan Kebinekaan.

Padatnya rangkaian acara selama dua hari tersebut, mungkin terdengar melelahkan. Namun, para peserta justru menikmati setiap momen yang ada. Buktinya, saat diminta menyebutkan satu kata tentang Kegiatan Sarasehan ini, muncul berbagai jawaban seperti “gacor”, “asyik”, “keren”, dan lain-lainnya yang menunjukkan betapa serunya kegiatan ini.
In the end, kegiatan Sarasehan Kebhinekaan 2026 menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk berteman dan bertumbuh bersama. Melalui semangat SAHABAT, seluruh peserta dapat belajar bahwa toleransi, solidaritas, dan persaudaraan harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga kegiatan ini bisa menjadi pengalaman berharga yang meninggalkan kesan dan memori hangat bagi semua peserta, serta dapat menjadi inspirasi kita semua untuk terus menjaga kebinekaan di tengah keberagaman masyarakat. Karena bersama, perbedaan akan selalu terasa indah!! ✨💗
Jurnalis:
Josephine Patricia Zendrato Kelas XI-2/17/12511
Eleora Leonie Timothy kelas X-5/06/12686
Josepha Ernesta Regina Ticoalu Kelas X-6/17/12735
Foto:
Rapha Aritya Putra Kelas X-4
Rafael Krisna Putra Yuniantono Kelas X-5
Christophorus Raditya Herliano Kelas XII MIPA 1






