
Pernahkah kamu merasa bosan saat belajar di kelas, terutama jika hanya diminta duduk, diam, dan mendengarkan penjelasan guru? Padahal, proses belajar sebenarnya bisa dikemas jauh lebih interaktif. Hal tersebut dibuktikan secara langsung lewat keseruan praktik debat mata pelajaran PPKn yang diikuti oleh para siswa kelas XI SMA Katolik Santo Paulus. Melalui pembahasan isu-isu hangat seputar Pancasila dan tantangan generasi muda di era digital, suasana pembelajaran di kelas berubah menjadi sangat dinamis. Para siswa diberi ruang luas untuk menyuarakan gagasan, menyampaikan argumen, serta belajar menghargai sudut pandang orang lain.

Suasana kelas yang awalnya santai seketika berubah tegang sekaligus seru begitu sesi debat dimulai. Ruang kelas XI mendadak menjadi arena adu argumen yang hangat saat Kelompok 1 berhadapan dengan Kelompok 4, Kelompok 2 melawan Kelompok 5, serta Kelompok 3 bertanding melawan Kelompok 6 dengan mosi yang berbeda-beda. Setiap peserta menunjukkan gaya diplomasinya masing-masing; ada yang tetap tenang dan berkepala dingin saat memaparkan data, ada pula yang sigap melayangkan sanggahan tajam. Mereka dituntut berpikir cepat untuk menanggapi argumen kubu lawan. Di tengah tingginya tensi diskusi, aura kompetitif makin terasa saat setiap kelompok berupaya mempertahankan posisinya secara logis.
Antusiasme yang tinggi dari para siswa tentu membawa dampak positif bagi perkembangan diri mereka. “Ada beberapa manfaat yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan debat ini, di antaranya melatih diri untuk berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat di depan umum, dan belajar menghargai sudut pandang orang lain,” ujar Laurencia Yeung, siswa kelas XI Kesehatan 3.

Melalui kegiatan ini, para siswa belajar bahwa memiliki pandangan pribadi itu penting, tetapi tahu cara menyampaikannya secara santun dan terstruktur jauh lebih utama. Berbagai momen menegangkan di dalam arena debat akan menjadi pengalaman berharga yang terus diingat. Pada akhirnya, menang atau kalah hanyalah bagian kecil dari proses pembelajaran. Hal yang paling utama adalah bagaimana setiap siswa mampu melatih keterbukaan diri dalam menerima perbedaan, menghargai lawan bicara, serta tetap berpikir kritis sebelum mengambil tindakan. Sampai jumpa di kegiatan seru berikutnya, SaintPaulers!
Jurnalis & Fotografer:
Eleora Leonie Timothy
Chelsea Juanita Kusuma








