
Hello Saintpaulersss!!! Siapa di sini yang masih asing sama salah satu romo ter-kece di SMAK?? Siapa lagi kalau bukan romo kita tercinta, Romo Atan. Kalian penasaran nggak sih cerita awal Romo Atan yakin dan memantabkan diri sebagai seorang romo sampai pengalamannya mengajar di SMAK Santo Paulus Jember? Yuk kita kepoinnn!
Romo Atanasius Mariyanto Eka, S.Fil., M.Th. atau biasa dikenal dengan Romo Atan berasal dari Flores, NTT. Wah, jauh sekali ya teman-teman. Romo Atan masuk seminari pada tahun 2001. Awalnya, romo tidak tahu apakah menjadi seorang romo ini adalah panggilan atau bukan. Bahkan, sampai sekarang romo juga belum tahu. Akan tetapi, romo merasa yakin saat berproses di seminari. Singkat cerita, setelah pastoral antara tahun 2014 dan 2015, romo berkeinginan dan bertekad untuk melayani sesama selama 24 jam karena romo merasa dunia butuh orang-orang yang fokusnya benar-benar melayani dan tidak disibukkan dengan hal lain yang menyibukkan pribadi seperti berkeluarga. “Akhirnya, saya memutuskan untuk maju sampai menjadi imam,” ucap Romo Atan.
Sekarang kalian sudah tahu nih cerita awal seorang Romo Atan menjadi seorang imam. Lalu sekarang bagaimana ya kisahnya mengajar di SMAK Santo Paulus Jember?

Setelah tahbisan, ternyata Romo Atan diutus ke SMAK Santo Paulus Jember. Diutus ke sekolah kita ini bukanlah hal yang mudah bagi Romo Atan. Romo berkata bahwa perbedaan budaya sempat membuat romo mengalami kendala. Cara melayani dan mengajar di NTT berkarakter keras. Lain halnya dengan di sini. Budaya di Jawa ini lembut. Ditambah, romo harus belajar budaya Tionghoa karena mayoritas murid di sekolah kita ini beretnis Tionghoa. Mengingat luar biasa besarnya nama SMAK Santo Paulus di Jember, standar mengajar di SMAK Santo Paulus ini pun berbeda. Ternyata, romo sempat merasa nervous saat pertama kali berada di SMAK Santo Paulus Jember. Kendala lain yang dialami romo adalah harus belajar menjadi guru karena romo bukan bergelar S.Pd.. Namun, kendala itu dapat diatasi dengan baik. Romo mendapat banyak bimbingan sehingga bisa mengetahui metode pembelajaran yang pas walaupun romo masih mengajar dengan karakter NTT yang keras, tetapi tidak keras secara fisik. Sekarang romo sudah bisa beradaptasi di sekolah kita tercinta ini. Teman-teman itulah sedikit kisah dari romo kesayangan kita, Romo Atan. Bagaimana? Menarik bukaaannnn??

Nah teman-teman, ternyata di balik semua kesuksesan dalam meraih sesutu yang kita inginkan, selalu ada proses yang tidak mudah dan terkadang membuat kita cemas dan bimbang. Meski begitu, kita harus selalu mau belajar dan dibentuk, serta pantang menyerah dalam melakukan proses itu. Eits … dan yang tidak kalah penting, kita harus bisa percaya diri dan menyerahkan segala proses itu kepada Tuhan. Percayalah, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Penulis:
Alexandra Tifanny Dewi Sadikim Kelas XII IPS 2
Foto:
Alfred Aurelio Kelas XII IPS 4






