
Halo SaintPaulers! Pada hari Senin, 10 November 2025, suasana khidmat menyelimuti GOR SMAK Santo Paulus Jember. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, keluarga besar SMAK Santo Paulus menggelar upacara bendera dengan penuh hikmat. Meski tidak semua kelas dapat hadir karena tiga rombel harus mengikuti Bimbingan Karier di luar kota, semangat upacara yang dipimpin oleh Bapak Yohanes Chrys Heryanto, S.Pd. tidaklah luntur sedikit pun.
Dalam amanatnya, Bapak Heri mengajak seluruh peserta upacara untuk merefleksikan makna kepahlawanan yang seringkali terlupakan. Beliau menyoroti betapa mudahnya kita melewati nama-nama jalan seperti Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gajah Mada, atau Jalan Sultan Agung tanpa benar-benar merenungkan perjuangan dan pengorbanan di balik nama-nama tersebut.
Menurut beliau, setiap nama jalan adalah sebuah monumen pengingat akan nyawa, keringat, dan air mata yang telah ditumpahkan untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia. Dalam amanat singkatnya, beliau menegaskan bahwa pahlawan bukanlah cerita usang dalam buku sejarah, tetapi inspirasi yang hidup dalam setiap langkah kita untuk mengisi kemerdekaan.

Di lapangan upacara kemarin, Pak Heri juga mengajak kita untuk melihat pahlawan yang paling dekat, yang jasanya seringkali tak terungkap. “Pahlawan yang paling nyata dan paling berjasa dalam hidup setiap dari kita adalah ibu kita masing-masing,” tegas Bapak Heri. Dalam renungan yang mendalamnya, beliau menggambarkan pengorbanan seorang ibu melalui lima “air” kehidupan.
Pertama, air ketuban yang melindungi kita di dalam kandungan. Kedua, air darah yang keluar saat ia mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kita ke dunia. Ketiga, air susu yang menjadi sumber kehidupan dan kekuatan kita di masa pertumbuhan. Keempat, air keringat yang tiap hari menetes tanpa henti untuk membesarkan dan memastikan kita bisa berdiri seperti hari ini. Dan kelima, air mata yang mengalir dalam diam, penuh doa dan cinta, baik dalam suka maupun duka kita. Kelima “air” ini adalah simbol pengorbanan tanpa pamrih yang membentuk diri kita.
Hal yang makin membuat haru dari upacara kemarin, yaitu adanya penampilan dari Kezia Karenina Kristanto, salah seorang murid kelas XI yang membawakan sebuah lagu berjudul “Bunda” karya Melly Goeslaw. Setiap lirik yang dilantunkannya seakan-akan mampu menyentuh relung hati paling dalam para peserta upacara sehingga memperkuat pesan yang disampaikan oleh Pak Heri.

Seusai upacara, saat Jurnalis SMAK Santo Paulus berkesempatan untuk mewawancarai Bapak Heri, Guru Matematika itu menegaskan bahwa sebenarnya ia ingin mengingatkan kita semua akan arti ketulusan seorang ibu. Menurutnya. ibu adalah sosok pahlawan sejati yang pengorbanannya tidak pernah berhenti, dari kita lahir hingga kita dewasa sekalipun. Kasih sayangnya selalu tulus, tanpa pamrih, namun seringkali tidak kita sadari.
Nah, upacara Hari Pahlawan kemarin benar – benar meninggalkan kesan mendalam untuk seluruh warga SMAK Santo Paulus kan?? Melalui amanat yang disampaikan oleh Pak Heri, kita bukan hanya diingatkan pada jasa para pahlawan bangsa, akan tetapi juga juga diingatkan akan arti pengorbanan sejati seorang ibu. Karena pada akhirnya, pahlawan sejati adalah mereka yang berbuat dengan cinta dan ketulusan tanpa pamrih. Selamat memperingati Hari Pahlawan!!
Jurnalis:
Michelle Kaylyn Nathania X-5
Alexandra Trixie X-4/01
Foto:
Samuel Kristian Siahaan XII MIPA 4
Joshua Budi Hariyanto Kelas X-1






