
Hallo SaintPaulers!!
Kalian tentunya tahu ya kalau tanggal 28 Oktober 2025 kemarin merupakan salah satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Sembilan puluh tujuh tahun yang lalu, kita, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya membulatkan tekad guna mengikrarkan Sumpah Pemuda, lho! Nah, untuk memperingati peristiwa tersebut, SMA Katolik Santo Paulus Jember mengadakan upacara bendera. Upacara bendera ini tentu saja wajib diikuti oleh semua warga SMA Katolik Santo Paulus Jember tanpa terkecuali.
Siapa sih pembina upacaranya?? Sesuai dengan hari nasional yang diperingati, tentu saja guru yang ditunjuk sebagai pembina upacara juga orang muda, guys. Beliau adalah Bapak Ujang Sarwono, S.Pd. Dalam amanatnya, beliau mengajak kita semua agar bersedia merefleksikan semua peristiwa yang pernah terjadi. Salah satunya yaitu dengan mengingat dua tokoh yang sungguh berjasa dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Kedua tokoh itu Wage Rudolf Soepratman dan Dolly Salim.

Dari Wage Rudolf Soepratman, kita diajak untuk berefleksi bahwa pendidikan adalah kunci agar pikiran kita dapat berkembang sehingga dapat menciptakan hidup yang lebih baik. Mengapa demikian? Terlahir dari kedua orang tua pribumi, Wage Soepratman rela menambahkan nama Rudolf agar bisa mengenyam pendidikan. WOW banget gak si??!!
Nah, tokoh kedua yaitu Dolly Salim. Dolly Salim yang merupakan anak pertama dari K.H. Agus Salim tercatat sebagai orang pertama yang berani menyanyikan lagu Indonesia Raya di hari Sumpah Pemuda kala itu. Ketika semua orang takut menyanyikan lagu Indonesia Raya, beliaulah satu-satunya yang berani mengumandangkan lagu tersebut. Dolly Salim dengan sengaja mengubah kata “Merdeka, Merdeka” menjadi “Mulia, Mulia!”
Lantas, apakah saat ini bangsa Indonesia sudah dapat dinyatakan merdeka??? Eiitss, ternyata menurut Bapak Ujang, bangsa kita masih belum bisa dikatakan merdeka seutuhnya, lho!!

“Bangsa kita masih belum merdeka seutuhnya karena masih banyak ditemukan kasus korupsi dan mental generasi muda yang lebih menghargai hasil daripada proses,” tegas Bapak Ujang.
Gimana guys?? Kira-kira bener nggak pernyataan tersebut?? Upss … daripada membahas benar atau salah, hal yang lebih penting saat ini adalah kita sebagai generasi muda yang cerdas dan berkarakter harus bisa memahami makna yang tersembunyi di dalam amanat tersebut. Bila mendapatkan masalah, kita tidak boleh hanya bisa mengeluh dan meratapi keadaan. Hal ini sejalan dengan pribahasa Tionghoa yang sengaja dipilih Bapak Ujang sebagai penutup amanatnya “‘Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan!”
Sampai jumpa di artikel yang berikutnya!! Byee byee 👋👋
Jurnalis:
Tim Jurnalistik SMA Katolik Santo Paulus Jember
Foto:
Dayvin Hubert Senjaya Lianto Kelas XII MIPA 2
Yessamine Lea Santoso XI-7






