
Siapa pun yang mengenal keseharian di sekolah pasti sepakat bahwa sosok guru Kimia satu ini dikenal sangat tegas, bahkan tanpa ampun bagi para pelanggar aturan. Namun, di balik nama yang ditakuti para murid, Tri Rahayu Sulistiani, menyimpan banyak sisi menarik yang layak dikulik. Siapa sangka, pengagum setia Dian Sastrowardoyo ini ternyata memiliki hobi
memasak, sangat menyukai mi ayam dan bakso, serta memiliki prinsip kuat terhadap ketertiban.
Bicara tentang mi ayam, bahkan Bu Tri mengaku memiliki cerita menarik tentang mi ayam. Suatu ketika ia diajak oleh rekan guru satu asrama untuk membeli mi ayam setelah satu bulan di Jember. Tentu saja dengan antusias dan kebahagiaan Bu Tri menyambut ajakan tersebut yang sedari lama merindukan Jogja dengan mi ayamnya. Ketika sampai di depot mi ayam di daerah Gebang, Bu Tri membaca sebuah papan bertuliskan, “mie ayam porsi regular” dan “porsi jumbo”. Saat diminta untuk memilih, Bu Tri segera memutuskan memesan porsi regular. Terbayang seketika mi ayam lezat dengan ayam cokelat, kuah kuning panas, mi kecil dan lembut yang akan mengobati kerinduan pada kota Jogyakarta.
Setelah asyik mengobrol, akhirnya pesanan mi ayam datag juga! Saat mi ayam berada di depan mata, Bu Tri terdiam melihat mi yang sama sekali tidak menarik secara tampilan. “Mi ayam macam apa ini, mi besar-besar, ayam berwarna putih, tanpa kuah, ada pangsit basah bersembunyi di bawah mi, aromanya juga berbeda dengan mi ayam kesukaan saya,” cerita Bu Tri. Beruntungnya Bu Tri hanya pesan porsi reguler sehingga masih bisa berusaha sekuat tenaga
menghabiskan mi ayam yang jauh dari ekspetasi.
Hal yang membuat paling tak terlupakan yakni, mi tersebut dibeli dari gaji pertama menjadi guru di SMAK Santo Paulus. Memang terkadang, apa yang kita bayangkan tidak selalu sama dengan apa yang kita alami. Bu Tri menyadari jika ternyata beda kota beda cara memasaknya dan penyebutan. Setelah beberapa bulan di Jember barulah Bu Tri tahu bahwa jika ingin menikmati mi ayam seperti di Yogyakarta bisa mengunjungi Mi Ayam Wonogiri. Inilah
cerita unik yang barangkali jarang diketahui oleh rekan kerja dan murid.
Orang dengan disiplin tinggi
Hampir semua warga sekolah akan mengamini jika Bu Tri adalah pribadi yang disiplin, teliti, cermat, dan terkadang bicara apa adanya tanpa basa-basi. Karakter ini seolah telah menjadi identitas yang melekat erat pada guru kelahiran 12 Mei 1980 tersebut. Namun, ketegasan itu bukanlah hal negatif; melainkan cara Bu Tri mengaktualisasikan diri dalam menjalankan tugasnya secara profesional.
Bagi Bu Tri, menjadi pendidik adalah panggilan hidup yang harus dijalani dengan hati. “Bagi saya, guru itu panggilan hidup yang perlu dihayati dengan ketulusan dan keikhlasan untuk membantu orang lain berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya. Semangat inilah yang terus mendorong sosok yang sempat bercita-cita menjadi ASN ini untuk terus berdedikasi.
Bekerja di SMAK Santo Paulus memberikan makna mendalam baginya. Bu Tri mengaku bahwa lingkungan sekolah telah membantunya lebih menghayati makna doa, persaudaraan, dan pelayanan. Tiga nilai utama yang menjadi napas sekolah ini.
Meski dikenal tegas, Bu Tri tetaplah manusia biasa yang tak luput dari rasa duka. Ia membagikan sebuah pengalaman tak terlupakan saat buah cintanya tiba-tiba mengalami panas tinggi. Di tengah kepanikan sebagai orang tua, ia harus berhadapan dengan seorang wali murid yang datang tanpa janji untuk meluapkan kekesalan terkait urusan perlombaan.
Situasi tersebut menjadi ujian berat bagi emosinya. “Saat itu, ada rasa ingin marah karena kami saling tidak memahami kondisi masing-masing,” kenangnya. Namun, peristiwa pahit itu justru menjadi guru terbaik. Guru yang memimpikan rumah dengan kebun luas ini mengaku kini lebih bijak dalam mengelola emosi dan kekecewaan.
Kenangan masa awal mengajar di SMAK Santo Paulus juga sangat berkesan baginya. Kepedulian rekan kerja yang tinggi membuatnya merasa betah. Ia bahkan belajar banyak hal praktis, seperti pengelolaan keuangan, dari para senior. Keterlibatannya dalam berbagai kepanitiaan sekolah turut membentuknya menjadi pribadi yang lebih matang. “Melalui berbagai kegiatan, saya belajar berkolaborasi, memahami karakter orang lain, mengatasi konflik, hingga belajar menerima perbedaan pendapat,” tuturnya.
Saat ditanya soal inspirasi, Bu Tri dengan mantap menyebut tiga nama rekan sejawatnya. Bu Enny dan Bu Hedwig menjadi teladannya dalam hal ketertiban dan kedisiplinan administratif, sementara Bu Dina ia kagumi karena konsistensinya dalam bekerja.
Menyambut HUT ke-75 SMAK Santo Paulus, Bu Tri berharap semangat doa, pelayanan, dan persaudaraan tetap menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. “Spiritualitas Karmel inilah yang akan terus menguatkan SMAK Santo Paulus di tengah arus zaman yang semakin tidak menentu,” pungkasnya dengan tegas. Tabik.






