
“Every child is gifted. They just unwrap their gifts in different ways.”
Halo, SaintPaulers! Kelas XII selalu punya cara unik untuk belajar. Kali ini, mereka berkunjung ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Negeri Jember, lho. Untuk memahami lebih dalam materi mutasi gen dalam pelajaran Biologi, mereka datang untuk bermain dan belajar bersama teman-teman di sana. Setiap kelas XII MIPA memiliki jadwal kunjungan yang berbeda antara minggu keempat Januari hingga minggu pertama Februari 2026. Kira-kira, mereka ngapain saja, ya? Yuk, kita simak!

Sebelum masuk ke ceritanya, mungkin kalian bertanya-tanya: kenapa sih kakak-kakak kelas XII berkunjung ke SLB? Jadi, kunjungan ini erat kaitannya dengan materi Mutasi. Dalam materi ini, mereka mempelajari perubahan pada materi genetik yang memengaruhi sifat fisik maupun fungsi tubuh seseorang. Beberapa jenis mutasi dapat menyebabkan kondisi berkebutuhan khusus, sehingga sangat relevan dengan pendidikan di SLB.
Setiap kelas XII MIPA dibagi menjadi kelompok kecil beranggotakan 3–4 murid. Masing-masing kelompok mendampingi satu kelas di SLB yang kategorinya sangat beragam—mulai dari teman-teman tunanetra, sindrom Down, tunarungu (tuli), hingga tunawicara (bisu). Melalui pembagian ini, setiap murid mendapatkan kesempatan emas untuk berinteraksi langsung, baik saat belajar, bermain, maupun sekadar mengobrol santai.

Berbagai aktivitas seru pun dilakukan, seperti belajar berhitung, bermain games sederhana, menggambar, hingga bernyanyi bersama. Dalam setiap momen tersebut, murid SMAK Santo Paulus belajar untuk lebih sabar, peka, dan menghargai sebuah proses. Lebih dari itu, mereka mendapatkan pelajaran berharga tentang empati dan cara menghargai perbedaan. Setiap anak tentu memiliki potensi dan keistimewaan masing-masing; hanya saja, cara mereka mengekspresikannya berbeda-beda.
Pesan Menyentuh
Eits, tunggu dulu! Salah satu guru di SLB Negeri Jember punya pesan spesial untuk kita, nih. Mari kita dengarkan! “Saya berharap ke depannya agar murid-murid di SLB Negeri Jember dapat menjadi pribadi yang mandiri dan aktif. Meski memiliki hambatan tertentu, saya berharap mereka bisa menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat di masa mendatang,” ujar Ibu Khoirul Nisa, S.Pd., selaku guru kelas Cerebral Palsy SLB Negeri Jember.

Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat bahwa SLB bukan sekadar sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Tempat ini adalah wadah untuk membina kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan sosial agar mereka siap terjun ke masyarakat. Oleh karena itu, SLB memiliki peran krusial dalam membantu mereka meraih ilmu dan cita-cita.
All right, guys! Itu dia keseruan artikel kita hari ini. See you in the next trip!
Jurnalis:
Jennifer Evelyn Kelas XII MIPA 2
Robbi Fadli Ari Seto Kelas XII MIPA 3
Immanuel Revo Tanus Kelas XII MIPA 2
Foto:
Jennifer Evelyn Kelas XII MIPA 2
Immanuel Revo Tanus Kelas XII MIPA 2






