
Halo, Rek! Setelah kita membahas tenses dalam mata pelajaran Bahasa Inggris dan kedalaman makna dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, rasanya belum lengkap nih kalau kita tidak membahas satu bahasa lagi yang sering kita gunakan di SMA Katolik Santo Paulus. Yap! Bahasa Jawa!
Memang sih, mata pelajaran bahasa Jawa sering hanya dicap sebagai pelajaran lokal yang kurang penting. Padahal, mata pelajaran ini menyimpan berbagai estetika dan kebijaksanaan loh! Buktinya? Hal yang paling membedakan bahasa Jawa dengan mata pelajaran lain adalah adanya unggah-ungguh basa yang meliputi ngoko lugu, ngoko alus, krama madya, dan krama inggil.
Selain aspek sastra, mata pelajaran Bahasa Jawa di SMA Katolik Santo Paulus juga memperkenalkan kita pada berbagai kesenian, seperti geguritan, tembang macapat, wayang, bahkan karawitan. Pelajaran mengenai karawitan ini bukan sekadar belajar memainkan gamelan, tetapi merupakan pintu masuk untuk memahami falsafah hidup orang Jawa yang penuh dengan harmoni dan kerja sama. Dalam satu set gamelan, tidak ada instrumen yang paling utama. Semua saling melengkapi, mulai dari suara gemerincing saron, kelembutan gambang, kenyaringan gong, hingga kelincahan kendang.

Dalam pelajaran mengenai gamelan ini, setiap murid diajak untuk mendengarkan, menghargai, dan masuk ke dalam alur irama secara kolektif. Di sinilah nilai kebersamaan dan kerendahan hati diasah. Kok bisa? Jawabannya simpel banget! Memainkan gending yang indah memerlukan keselarasan, bukan keinginan untuk menonjol sendiri.
Akhirnya, nilai-nilai dalam mata pelajaran bahasa Jawa ini diwujudkan melalui acara “Festival Unjuk Karya Gamelan” yang diadakan setiap tahun. Semua murid wajib menampilkan dua lagu daerah hasil kesepakatan kelas mereka sendiri. Festival ini tentunya bukan tentang ajang tampil saja lho! Tapi juga bagian dari penilaian mata pelajaran bahasa Jawa.
Nah, SaintPaulers, kalian ingin tahu mengapa di SMA Katolik Santo Paulus diajarkan bermain gamelan? Ini tanggapan dari Pak Sumarno selaku guru pembimbing karawitan.

“Gamelan itu diajarkan kepada murid-murid supaya murid-murid sabar, kompak, dan mengerti perannya masing-masing dalam bermain gamelan.” ujarnya. Menurut beliau, dalam gamelan tidak ada yang boleh bermain sendiri atau merasa bahwa dirinya itu paling hebat diantara yang lain, karena keindahan musik itu justru muncul saat semua instrumen berjalan bersama
Gitu gess, sekilas mengenai pelajaran Bahasa Jawa. Ternyata Bahasa Jawa bukan cuma hafalan kosakata yaa, tetapi juga belajar sopan santun lewat unggah-ungguh basa dan melatih kekompakan lewat gamelan.
Soo, SaintPaulers, yuk kita nikmati dan hargai setiap proses belajar ini. Siapa tahu, dari gamelan, geguritan, atau bahasa halus yang kita pakai hari ini bisa jadi bekal berharga di masa depan.
Ojo lali ngetutke!!! 🎉
Jurnalis:
Patricia Lorenza Handoko Kelas XI-3
Robbi Fadli Ari Seto Kelas XII MIPA 3
Michelle Kaylyn Nathania X-5
Ilustrator:
Michelle Kaylyn Nathania X-5
Foto:
Joshua Budi Hariyanto Kelas X-1






