Tanoker: Tempat Belajar Tradisi dan Kehidupan

“Keseimbangan hidup serta ketekunan harus dijaga dalam mencapai stabilitas tersebut.”

Eyyow, SaintPaulers! Balik lagi bareng kami yang selalu punya kabar seru buat kalian semua! Kali ini, kita bakal bahas pengalaman luar biasa teman-teman kelas X yang baru aja mengunjungi Kampung Wisata Belajar Tanoker di Ledokombo. Nah, Kampung Wisata Belajar Tanoker ini didirikan dan dikelola oleh Dr. Ir. Suporahardjo, M.Si. yang juga alumni SMA Katolik Santo Paulus tahun ’83. Tempat ini merupakan sebuah tempat unik yang gak cuma seru, tetapi juga penuh inspirasi budaya. Penasaran ada keseruan apa aja? Yuk, baca sampai habis!

Berangkat pada Sabtu (07/12/2024), tepat pukul 07.00 WIB, perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Bayangkan, teman-teman kelas X gak naik bus atau kendaraan umum, melainkan truk tentara! Bukan cuma bikin perjalanan lebih cepat, tetapi suasana jadi super seru karena mereka bisa ramai-ramai menikmati pengalaman yang jarang banget dilakukan sehari-hari.

Sudah cukup membicarakan truk, ya. Sekarang, mari kita move on ke inti acara kali ini, yakni keseruan di Kampung Wisata Belajar Tanoker! Akan tetapi, sebelum kita masuk dalam cerita inti, kita harus tahu bahwa acara kelas X kali ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang tradisi-tradisi di Indonesia. Nah kira-kira pengetahuan apa saja ya, yang mereka dapatkan selagi berkegiatan di Kampung Wisata Belajar Tanoker??

“Pengetahuan yang saya dapat setelah berkegiatan di Kampung Wisata Belajar Tanoker yaitu cara bermain alat musik tradisional, permainan tradisional, seperti egrang, bakiak, dan gobak sodor. Saya juga belajar bahwa Indonesia memiliki banyak budaya dan budaya itu harus dipelajari agar tidak hilang dari Indonesia dan untuk membudayakan budaya ini, tidak bisa hanya dalam 1 hari saja, tapi harus dalam jangka waktu yang panjang,” ujar Brandon Laydianto dari kelas X-3.

Gimana-gimana?? Seru, kan?! Selain main dan belajar, acara ini juga jadi pengingat bahwa budaya kita adalah warisan yang harus dijaga bersama. Nah, seperti yang telah dikatakan Brandon bahwa murid kelas X telah diajarkan cara bermain permainan tradisional saat di Tanoker. Ternyata, ada banyak lohh teman-teman kita yang telah mengetahui bahkan telah lihai bermain permainan tradisional, seperti gobak sodor dan bakiak. Akan tetapi, ada satu permainan yang sangat menantang dan sangat susah untuk dimainkan. Permainan itu adalah permainan egrang.

Buat kalian yang belum tahu, egrang merupakan sebuah permainan tradisional asal Jawa yang dibuat khusus dengan sepasang bambu untuk berjalan. Bambu dibentuk seperti tongkat dan memiliki tumpuan kaki yang terbuat dari kayu. Pada dasarnya, permainan egrang dimainkan oleh anak-anak. Uniknya, di Tanoker, kita dapat melihat bahwa orang yang memainkan egrang itu tidak hanya anak-anak, tetapi orang dewasa juga.  

Memang terlihat susah untuk berjalan dengan sepasang bambu, apalagi kemungkinan untuk jatuh dan terluka itu bisa saja terjadi saat bermain. Namun, tenang saja, ada tim dari Tanoker yang mendampingi supaya tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Nah jika hal itu benar-benar terjadi, mereka menjadi orang pertama yang memberikan pertolongan. Selain itu, tim dari Tanoker juga menuntun murid kelas X ketika berjalan menggunakan egrang sampai mereka dapat berjalan sendiri.

Tujuan dari permainan egrang adalah untuk melatih keseimbangan serta menambah rasa percaya diri. Hal tersebut telah dibuktikan dari penampilan kece, yaitu tarian dengan menggunakan egrang yang dilakukan oleh tim dari Tanoker..

Selain permainan tradisional, para murid kelas X juga dikenalkan dengan alat musik dan lagu tradisional lhoo!! Di sana, mereka diajarkan bagaimana cara memainkan sebuah lagu dengan alat musik gendang dan kentongan yang telah disediakan. Tidak hanya itu, mereka juga diajak untuk mengiringi lagu tradisional dengan harmoni yang indah banget! Suasana kebersamaan jadi makin terasa saat semua murid bermain musik bersama.

Seusai murid kelas X memainkan berbagai permainan tradisional, kegiatan diakhiri dengan refleksi. Mereka diajak untuk berkumpul dan merenungkan setiap kegiatan yang telah diikuti. Setelah refleksi bersama ini, kegiatan P5 ditutup dengan makan bersama serta foto bareng. Momen ini dijamin gak bakal dilupakan deh!

Nah, kira-kira apa sih kesan dan pesan dari murid kelas X setelah mengikuti serangkaian kegiatan yang ada?  “Kesan dan pesannya, saya senang mendapat banyak pengalaman baru seperti bermain permainan tradisional. Walau awalnya saya kira saya tidak bisa memainkannya, tetapi ternyata saya bisa. Permainan-permainan yang telah dimainkan menyadarkan saya tentang  pentingnya kerja sama dan menurut saya, semua permainan yang telah saya mainkan sangat menyenangkan dan asyik. Saya berharap dapat mengikuti lebih banyak kegiatan lain serupa agar dapat melestarikan budaya Indonesia,” ujar Jasmine Sampurna dari kelas X2.

Tanoker gak cuma tentang permainan dan musik, tetapi juga soal pelajaran hidup, menghargai tradisi, menjaga budaya, dan melatih diri untuk lebih seimbang. Ketekunan, kerja sama, dan kebersamaan menjadi inti dari semua aktivitas yang dilakukan di sana.

Bagaimana, SaintPaulers? Seru banget, kan? Jadi, buat kalian yang belum pernah ke Tanoker, yuk tambahkan ke wishlist kalian! Siapa tahu, perjalanan kalian berikutnya bakal lebih seru dan bermakna!

Jurnalis:

Josephine Patricia Zendrato Kelas X2

Joycelyn Clarissa Hanjoyo Kelas X3

Patricia Lorenza Handoko Kelas X5

Foto:

Joycelyn Clarissa Hanjoyo Kelas X3

Sesilia Atyantika Kelas X3