Suara SaintPaulers: MenyikapiKelangkaan BBM di Jember

Eyyow, SaintPaulers! Siapa sangka kita kembali merasakan euforia zoom fatigue dan drive-thru tugas sekolah? Yaps, itulah realita yang sedang dialami oleh para murid SMA Katolik Santo Paulus Jember sekarang! Eitss jelas bukan karena gelombang Covid-19 baru dong, melainkan karena kelangkaan BBM di Jember yang bikin motor sampai mogok, antre bensin sampek kayak siap-siap nonton konser.

Sebenarnya, kenapa sih antrean panjang BBM ini dapat terjadi? Apakah sumber daya BBM kita habis? Ternyata jawabannya bukan karena itu lho, guys, melainkan terkait kendala pendistribusian. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com dalam artikelnya yang berjudul Jalur Gumitir Ditutup, Suplai BBM ke Jember Dialihkan melalui Surabaya dan Malang, pengiriman Depo Pertamina Banyuwangi terhambat karena adanya penutupan jalan nasional di Jalur Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi (Silvia dan Hartik, 27 Juli 2025) .

Lantas, apa solusinya? Pengalihan stok BBM dari Depo Pertamina Banyuwangi ke Depo Surabaya dan Malang tentu saja sudah dilakukan. Hal ini menjadi jalan keluar terbaik yang sudah dipilih oleh pemerintah agar kelangkaan BBM di berbagai daerah yang terimbas dapat segera teratasi.

Well well, dalam menghadapi kelangkaan ini, kita tidak boleh panic buying! Banyak jalan menuju Roma ya, guys. Bila memang BBM langka, sebagai generasi muda yang tangguh, kita tidak boleh berlarut-larut dalam ketidakberdayaan. Bagaimana cara kita keluar dari masalah ini? Adakah jalan lain? Pastinya, ada dong! Salah satunya yaitu dengan mencari alternatif transportasi lain – bersepeda. Moda transportasi sederhana ini bisa lho dibuat untuk bepergian ke tempat-tempat yang agak jauh. Percaya nggak??

“Saya rasa menggunakan sepeda pancal dapat membantu untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap BBM, terutama untuk transportasi sehari-hari. Contohnya pergi ke sekolah, ke kantor, atau ke pasar. Selain itu, saya menggunakan sepeda pancal pada akhir pekan sebagai sarana untuk rekreasi,” ungkap David Santoso Kelas XII MIPA 3.

“Hmm, kalau aku malas pancal sepeda gimana dong?” Tenang guys, saat ini kita bukan lagi hidup di zaman pra sejarah. Jadi, dengan mudah, kita akan menemukan moda transportasi yang semakin berkembang. Salah satunya yaitu sepeda listrik.

“Aku rasa sepeda listrik ini jauh lebih mudah dikendarai daripada sepeda motor. Selain tidak menimbulkan suara yang mengganggu, sepeda listrik nggak menggunakan BBM. Jadi, nggak mengeluarkan asap pembakaran yang mengandung zat-zat berbahaya sehingga dapat mencemari lingkungan,” ucap Josephine Patricia Z.

Nah, setelah membaca pengalaman tersebut, kita dapat memetik pelajaran yang berharga dari musibah ini. Ternyata, krisis BBM yang sedang terjadi bisa digunakan sebagai alarm bagi masyarakat Jember agar lebih bijak dalam menggunakan energi. Maka dari itu, marilah sikapi kelangkaan BBM ini menjadi panggilan untuk mengubah keadaan.

Berubah bukan hanya berbicara soal mempercepat distribusi BBM. Berubah juga berbicara soal permulaan peralihan menuju energi ramah lingkungan dan mulai peduli terhadap alam. Mari kita sebagai generasi muda mulai mengambil tindakan nyata untuk masa depan yang lebih baik.

Ingat, perubahan sekecil apapun selalu dimulai dari kesadaran diri sendiri!

Jurnalis:

Patricia Lorenza Handoko Kelas XI-3/26

Jennifer Evelyn Kelas XII MIPA 2/10

Cyrilla Levina Kuswanto Kelas XII MIPA 2/03

Foto:

Sesilia Atyantika Kelas XI-7/22

Illustrator:

Queenvie Faith Macailey XI-1/26