Mereka yang Sudah Lama Mengabdi

“Pengabdian Bu Sisca, Pak Joni, Pak Joko, Bu Hedwig, serta Pak Tomo telah melebihi sebait puisi yang indah. Secara khusus, acara ini merupakan wujud ucapan terima kasih atas pengabdian bapak serta ibu yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdi di SMAK Santo Paulus.” Begitulah kira-kira pengantar dari Bapak Ujang Sarwono saat mengawali acara pemberian penghargaan kepada empat orang guru dan satu karyawan yang telah mengabdi di SMAK Santo Paulus Jember.

Hari Jumat 1 November yang lalu, SMAK Santo Paulus secara khusus memberikan penghargaan kepada guru dan karyawan yang telah mengabdi lebih dari 25 tahun. Acara yang baru pertama kali diadakan ini merupakan wujud apresiasi sekolah atas pengabdian di dunia pendidikan khususnya SMAK Santo Paulus Jember. “Acara ini merupakan wujud ucapan terima kasih untuk para guru yang telah 25 tahun mengabdi. Acara ini baru pertama kali diadakan di SMAK Santo Paulus,” ungkap Romo Antonius Denny Cahyo S., S.S., M.Sc., M.Pd. saat memberikan sambutan.

Acara yang dihadiri oleh seluruh guru dan karyawan tersebut juga dihadiri langsung oleh ketua yayasan Sancta Maria Malang yang menaungi SMAK Santo Paulus Jember. Secara khusus, ketua yayasan hadir untuk memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih. “Saya sudah kenal mereka semua sangat lama. Mereka teman-teman saya saya. Mereka sudah lama mengabdi untuk sekolah ini. saya hanya bisa mengucapkan terima kasih,” ungkap Romo Aloysius Djono Moi, O.Carm saat memberikan sambutan.

Perasaan bangga bercampur haru juga tampak saat salah seorang guru mewakili memberikan sambutan.“Saya bersyukur selama 26 tahun bisa mencurahkan tenaga dan pikiran pada sekolah tercinta ini. Masih diberi kesehatan untuk bisa mendampingi anak-anak belajar dan membimbing murid menuju masa depan,” ungkap Yohanes Drs. Joko Prabowo saat mewakili para guru dan karyawan yang telah 26 dan 27 tahun mengabdi.

Sebagai penutup acara, Pak Ujang Sarwono selaku pembawa acara juga menyampaikan kata penutup yang dapat dijadikan semangat mengabdi. Kekayaan tertinggi yang dimiliki seorang guru bukanlah apa yang dimiliki, tapi apa yang telah diberikan kepada para murid.

 Oleh: Amelia Suhardi (XI S3/02 dan Kezia Keren Sutejo (XI S1/16)