
“Ada masanya kita
Mencuri ruang dan waktu
Walau pasti berlalu
Biarkan saja kita ke sana
Selagi masih bisa bersama”
— Hindia, “Kita Ke Sana”
Eyyow SaintPaulers!
Coba deh putar musik ini. Musik ini terasa seperti soundtrack perjalanan masa-masa SMA, terutama bagi X2winkle, kelas para bintang yang telah bersama-sama melewati dua semester penuh cerita. Bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang tawa, perjuangan, dan persahabatan yang semakin erat setiap harinya. Lagu ini mengingatkan kita semua bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang sekolah, melainkan tentang kebersamaan yang menghangatkan hati.
X2winkle bukanlah kelas yang sempurna. Mereka tidak dibentuk oleh keseragaman, tetapi oleh perbedaan yang saling dirangkul. Di kelas ini, setiap murid menemukan ruang untuk menjadi diri sendiri, sekaligus tempat untuk saling memahami.
Salah satu momen yang paling dikenang oleh murid-murid X2winkle adalah saat mengikuti kegiatan birontal di Rayap. Meskipun hanya berlangsung satu malam, kehangatan yang tercipta di sana begitu membekas. Tanpa ponsel, tanpa gangguan, mereka hadir sepenuhnya satu untuk yang lain. Mereka bernyanyi, tertawa tanpa batas, bahkan menangis dalam pelukan teman.

“Waktu itu kami benar-benar merasa menjadi satu keluarga,” ungkap Gillian Stephanie, salah satu murid X2winkle. Dari pengalaman tersebut, lahirlah sebuah komitmen untuk kelas yang dituangkan dalam sebuah kanvas sidik jari. Namun, kanvas itu lebih dari sekadar simbol. Itu adalah cerita. Di setiap sidik jari terdapat jejak rasa: tentang tawa yang tulus, musyawarah yang seru, dan hangatnya kebersamaan yang tak tergantikan.
Warren Tannata Suryasamudra, Wakil Ketua kelas X2winkle juga mengungkapkan bahwa ada kesan yang selalu baru di setiap harinya. “Melalui candaan di waktu istirahat, kami saling menguatkan saat ada yang merasa jatuh. Semuanya itu tentu saja tidak tergantikan.”
Menurutnya, X2winkle bukanlah kelas yang langsung rapi atau kompak. Tetapi justru karena diberi ruang untuk tumbuh dan saling percaya, kelas ini mampu menunjukkan keistimewaannya. Nah, tau nggak kalian kalo di balik perjalanan mereka, ada sosok yang tak pernah lelah untuk membimbing dan mendampingi.
Beliau Bapak Ignatius Budiyono, S.Pd., M.Si., Wali Kelas X2winkle. Dengan kesabaran dan pemahaman yang tulus, beliau menjadi sosok penguat di tengah dinamika yang ada. Beliau tidak hanya hadir sebagai guru, tetapi juga sebagai pengayom yang memberikan rasa aman dan tempat untuk berbagi.
Nah, tentu saja nama X2winkle bukan sekadar nama ya guys. X2winkle menyimpan harapan bahwa suatu saat, murid-murid X-2 akan bersinar seperti bintang dengan cara mereka masing-masing.
Dan meskipun waktu terus berjalan, kenangan tentang X2winkle akan tetap bersemayam di hati. Karena rumah tidak selalu berupa bangunan. Terkadang, rumah adalah tempat di mana hati merasa pulang. Bagi mereka yang pernah menjadi bagian dari X2winkle, pulang akan selalu berarti kembali ke cerita itu—cerita tentang sidik jari, canda tawa, dan cinta yang diam-diam tumbuh di sela kesederhanaan.
Jurnalis:
Josephine Patricia Zendrato Kelas X-2
Foto:
Queenvie Faith Macailey X-2






