Harmoni dalam Keberagaman

Salam toleransi!

Salam tersebut menjadi pembukaan yang cocok untuk artikel ini. Kira-kira ada kisah apa ya kali ini? Jadi, kelas XI mendapat tugas untuk mewawancarai salah satu dari pemuka agama di Indonesia, khususnya mereka yang berdomisili di Kota Jember. Wawancara ini merupakan salah satu tugas dari pelajaran Religiositas Bab mengenai pemuka agama. Para murid kelas XI diwajibkan mencari salah satu tokoh agama. Tugas ini bersifat individu untuk kelas yang diajar oleh Ibu Ayu Leonarda Raja, S.Pd. dan kelompok untuk kelas yang diajar Suster Elisa, PPYK dan Fr. Yosef Ade Yudo Prakoso, O.Carm. Dari tugas wawancara tersebut, murid kelas XI diajak untuk lebih mendalami peran penting seorang pemuka agama. Seperti apa sih wawancara pemuka agama?

Tim Jurnalistik mendapat kesempatan meliput kegiatan wawancara tokoh agama untuk kelas XI MIPA 3 dan XI MIPA 4. Wawancara dilakukan oleh tiga kelompok, yakni kelompok Gilbertus Reuven (XI MIPA 3/11), kelompok Neville Angelo (XI MIPA 3/20), dan kelompok Miracle Mareta (XI MIPA 4). Kelompok Reuven dan Miracle pergi menuju tokoh pemuka agama Islam sedangkan kelompok Neville menemui tokoh pemuka agama Hindu.

Wah gimana ya sesi wawancara mereka? Tentu, mereka menanyakan berbagai hal seputar peran dan tugas para tokoh tersebut. Dalam hal agama, Ustadz Imam Hambali menjadi tokoh agama, penceramah, dan takmir di Masjid. Tak hanya itu, beliau adalah ketua umum organisasi Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Hal paling menarik menurut Reuven adalah saat ia mencari rumah Ustadznya. Ia berkeliling komplek perumahan bersama Raras. Itulah yang berkesan baginya. Berbeda dengan kelompok Reuven, kelompok milik Miracle mewawancarai seorang Ustadzah bernama Dra Isnurul. Beliau merupakan guru keagamaan di SMP Al-Furqan Jember. Menurutnya, menjadi seorang pemuka agama merupakan hal yang mulia yang harus didasari dengan “ghirah” atau semangat. Ia harus bisa memberi teladan yang baik terhadap murid-muridnya. Seperti kita yang diajarkan tata krama, dalam agama Islam kita diajarkan untuk selalu memiliki “akhlakul karimah”, yaitu akhlak yang baik dan terpuji.

Nah, gimana kabar mereka yang mewawancarai tokoh agama Hindu? Kami mendapat Fun Fact gaisss. Pandhita kali ini ternyata cukup dikenal lho. Mang eakk? Yes yess! Beliau ternyata sering ikut dalam kegiatan toleransi keagamaan di Jember. Beliau memiliki nama lengkap Mangku Nengah Sukarya. Beliau juga menjalin relasi dengan salah satu Romo di Jember. Tidak lain, tidak bukan, Romo Yoseph Utus, O. Carm. Wahh, sikap toleransi dan menghormati satu sama lain sungguh terasa ya. Apa ya hal yang paling berkesan bagi Neville saat wawancara Pandita ini? Neville berkata bahwa selama sesi wawancara jawaban dari Pandita ini sungguh menenangkan hatinya. Pembawaannya luwes dan bahasanya mudah dipahami. Begitulah pendapat dari Neville.

Itulah kegiatan para murid kelas XI. Terlihat asyik, bukan? Tak hanya menjadi pengalaman yang baru, kegiatan ini juga menambah ilmu mereka seputar agama lain lho. Teman-teman, setiap agama tentu mengajarkan tentang sikap toleransi dan menghormati maka tugas kita ialah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kami juga berpesan agar kita dapat setia dalam agama kita masing-masing ya.

Sampai jumpaa di artikel menarik berikutnya..

Penulis:

Hildegardis Raras XI MIPA 3 / 13

Jonita Shaquandra XI MIPA 4 / 16

Foto:

Hildegardis Raras XI MIPA 3 / 13

Gilbertus Reuven XI MIPA 3 / 11