Gamelan, Simfoni Jiwa yang Tak Terucapkan

Eyyow SaintPaulers! Salam budaya! Kalian sudah tahu tentang salah satu ekstrakurikuler mengasyikkan di SMA Katolik Santo Paulus, belum? Itu loh, yang ada nadanya. Eitss, bukan band. Sini, sini, biar kami beritahu!

Jawabannya adalah gamelan! Ekstrakurikuler gamelan merupakan ekstrakurikuler yang menemani SaintPaulers untuk menyelami salah satu kebudayaan Jawa. Tidak lain, tidak bukan, adalah gamelan!

Nah sekarang sudah tahu tentang keberadaan ekstrakurikuler gamelan, ‘kan? Sekarang yuk kita lanjut ke sosok di balik ekstrakurikuler ini. Kira-kira siapa sih? Perkenalkan, Bapak Sumarno, guru mata pelajaran Bahasa Jawa sekaligus pelatih dari ekstrakurikuler gamelan! Beliau sangat antusias dan sabar dalam mengajar murid-muridnya. Apalagi, orangnya friendly loh! Tak hanya itu, beliau juga sangat andal dalam membimbing anak didiknya. Beliau bisa mengajarkan keseluruhan dari alat musik gamelan dengan cakap. Jadi, jangan ragu ‘tuk masuk ekstrakurikuler ini, ya! Bahkan, anak-anak yang sebelumnya tak pernah memegang bonang sekarang bisa memainkannya.

Sebagai warisan budaya Indonesia, tentunya gamelan juga memiliki nilai seni musik yang khas. Mulai dari si berisik kendhang, si besar gong, si pendamping kempul, si berat demung, si kecil saron, si pengatur irama bonang, si jomblo kenong, bahkan si bintang utama pesinden turut serta dalam memeriahkan alunan musik Jawa ini. Sebenarnya apa sih yang menjadi motivasi dari terciptanya ekstrakurikuler gamelan ini? Jawabannya ternyata lebih sederhana dari yang kalian bayangkan, yaitu “cinta”. Eitss ini bukan cinta-cintaan seperti di layar kaca yaaa. Namun, cinta akan sebuah tradisi yang terbentuk sejak masa kecil dari Pak Sumarno.

Seperti kata orang, “cinta pertama biasanya susah hilang.” Hal ini tampaknya selaras dengan kepribadian dari Pak Sumarno. Sejak berkenalan dengan wayang, ia juga menekuni permainan gamelan khas Jawa Tengah ini. Mulai dari berbagai tembang hingga kreasi lagu, beliau mainkan dengan penuh ambisi. Berkat ambisinya tersebut, ia juga menekuni ekstra khusus gamelan sebagai bentuk ajaran akan budaya lokal Indonesia.

Sebagaimana yang telah dijalankan, ekstrakurikuler gamelan memiliki dua jadwal yang berbeda. Jadwal pertama adalah hari Senin yang dimainkan oleh murid kelas 10. Sedangkan, jadwal kedua yaitu pada hari Jumat yang dimainkan murid kelas 11. Perekrutan tim khusus ini cukup unik lho. Pak Marno awalnya akan memilih beberapa murid dari tiap kelas untuk langsung diangkat sebagai pemain tim khusus. Walau begitu, terdapat juga murid yang langsung menawarkan diri untuk menjadi anggota tim khusus gamelan.

Kalian sudah tertarik dengan gamelan, belum? Kita cari tau dulu cerita dari salah seorang pemain gamelan ini yukk. Sebagai pemain paling belakang, tetapi juga tidak kalah pentingnya, dia pemain gong. Murid ini bernama Cakra Sakti Sri Kresna dari kelas XI IPS 2. Sejak direkrut dari kelas 10 untuk bermain gamelan, Cakra menduduki salah satu tempat penting untuk bermain gong.

“Awalnya saya tidak mengira akan terpilih untuk bermain gamelan di tim khusus. Bahkan, dulu saya menganggap bahwa gamelan adalah permainan kuno yang mudah dimainkan, ternyata saya salah,” ucap Cakra. Walaupun bermain gong memiliki durasi yang singkat, tetapi perannya akan mudah terdeteksi Pak Marno apabila membuat kesalahan.

Semoga kalian terinspirasi dari artikel kali ini! Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

See you~~

Jurnalis:

Angelique Priscilla Wijaya Kelas XI IPS 3

Patricia Lorenza Handoko Kelas X-5

Patricia Danella Damayanti Kelas XI IPS 2

Foto:

Angelique Priscilla Wijaya Kelas XI IPS 3

Patricia Danella Damayanti Kelas XI IPS 2

Yohanes Emanuel Prasetya P. Kelas XI IPS 3