
Halo, SaintPaulers! Tak terasa, puncak perayaan Paskah telah kita lalui dengan penuh khidmat. Momen sukacita ini kembali mengingatkan kita akan besarnya kasih dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia. Namun, perlu kita ingat bahwa Paskah bukan sekadar seremoni tahunan atau “event” di kalender gereja. Paskah adalah titik balik bagi kita untuk memperkuat iman dan berani melangkah menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Tahukah kalian dari mana asal-usul Paskah? Dalam Perjanjian Lama, tradisi ini bermula dari kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Melalui perantaraan Musa, Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengurbankan seekor anak domba jantan yang tak bercacat. Darah domba tersebut dioleskan pada ambang pintu rumah sebagai tanda pelindung, sehingga mereka terhindar dari tulah kematian anak sulung yang menimpa bangsa Mesir.

Makna Paskah ini kemudian digenapi secara sempurna dalam Perjanjian Baru melalui Yesus Kristus. Beliau dipandang sebagai Anak Domba Paskah yang Sejati, yang merelakan diri-Nya disalibkan demi menebus dosa-dosa kita. Kebangkitan-Nya pada hari ketiga bukan hanya menjadi puncak iman Kristiani, tetapi juga proklamasi kemenangan mutlak atas maut dan penderitaan.
Momen “Upgrade” Jiwa
Bagi kita, Paskah adalah kesempatan emas untuk melakukan upgrade diri. Ibarat pakaian yang mulai kusam karena kesibukan duniawi, Paskah hadir untuk “mencuci” hati kita hingga bersih kembali melalui darah Kristus. Kita tidak hanya disucikan, tetapi juga dianugerahi keselamatan dan kasih yang tulus. Inilah saatnya kita tampil dengan semangat baru yang lebih positif dan bercahaya! Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita setelah merayakan kebangkitan ini? “Setiap umat Kristiani harus berpikir dan bertindak sesuai kehendak Tuhan: hidup dengan baik, mengamalkan cinta kasih, tinggal dalam sukacita dan damai, saling berbagi, serta taat dan setia kepada janji Tuhan,” pesan Rm. Kristoforus Rawi, S.Fil., M.Th.

Paskah adalah panggilan untuk berbenah dari dalam. Jangan sampai setelah perayaan usai, kita kembali terjerumus ke dalam kebiasaan lama yang membuat hati “berdebu”. Justru inilah waktu yang tepat untuk melepaskan masa lalu, saling memaafkan, dan melangkah tegap sebagai pribadi yang baru. Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 11:25: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Mari kita jadikan semangat Paskah ini sebagai bahan bakar untuk hidup lebih baik setiap hari—bukan hanya saat di dalam gereja. Tuhan sudah bangkit, kini giliran kita untuk bangkit dalam iman dan kasih. Alleluya!
Jurnalis:
Patricia Lorenza Handoko kelas XI-3
Michelle Kaylyn Nathania kelas X-5
Josepha Ernesta Regina Ticoalu Kelas X-6
Aurentzia Veayviane kelas XI-1
Foto:
Christophorus Raditya Herliano Kelas XII MIPA 1






