
ALOHA SaintPaulers!!
Semakin mendekati Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) pastinya makin banyak tugas dan ulangan harian yang pastinya juga bikin tambah pusinggg. Ditambah dengan tugas yang monoton dan bikin ngantuk. Tidak dengan kali ini boloo, kali ini ada tugas yang bikin ga ngantuk dan inovatif. Apaan tuh?
Ternyata mulai pada 22 April 2025 s.d 30 April 2025 kemarin, para murid kelas XI lagi disibukkan dengan berbagai tugas keterampilan nihh. Make a guess! kira-kira salah satu tugas keterampilan yang melibatkan adu peran di dalamnya apa hayoo? “Pasti Cinematography kann?” Nope! This is Bahasa Indonesia. Dalam bab ini, para murid diminta untuk menuangkan kreativitasnya dalam sebuah pentas seni drama. Berbeda dengan kelas lain, kelas XI IPS 2 dan XI IPS 3 membuat drama versi mereka dalam sebuah karya cerita gambar digital.

Para murid diberi kesempatan untuk memilih jenis karya cerita gambar digital yang akan mereka buat. Mulai dari cerita bergambar, komik, hingga yang paling membutuhkan banyak effort yaitu audio visual book. Meskipun audio visual book bisa dibilang “butuh banyak kesabaran dan effort”, tapi skor yang dicapai juga semakin tinggi lho, friends!
Wait…jangan salah! Selain dibuat dengan full effort, ternyata ada alasan lain di balik skor audio visual yang paling tinggi.
“Karya yang dibuat oleh para murid ini merupakan rekonstruksi dari drama. Dalam drama pastinya melibatkan ekspresi dari para pemeran. Nah, ekspresi dari karya ini semakin tersampaikan melalui suara. Itulah kenapa audio visual skornya yang paling tinggi” ujar Ibu Dyah.
Meskipun begitu, tak menutup kemungkinan juga para murid yang memilih jenis karya lain skornya akan lebih rendah jika dibandingkan mereka yang memilih audio visual yaa. “Semuanya tergantung konten yang dimuat di dalamnya. Meski memilih untuk membuat karya dengan skor paling tinggi (audio visual book) namun bila isi kontennya tak bisa dinikmati, maka skor yang didapat pun ikut menyesuaikan,” imbuh Ibu Dyah.

Tapi kalian penasaran ngga sih? Kok bisa ada gebrakan seperti ini di kala guru bahasa Indonesia lain tetap memilih melaksanakan drama walaupun kecil-kecilan?
“Karena kalau drama itu menghabiskan dana yang lebih besar dan waktu, apalagi kelas sebelas ini kan disibukkan dengan film, KTI. Nah, akhirnya saya mencari alternatif lain yang lebih dapat meminimalisir dana namun hasilnya masih sesuai dengan KD,” imbuh guru bahasa Indonesia tersebut.
Beliau juga berharap bila tugas ini dapat membuat murid menjadi lebih kreatif dan dapat memahami teks secara lebih mendalam. Tugas ini juga muncul karena Bu Dyah seringkali menghadapi situasi di mana murid sering sekadar membaca namun tidak meresapi makna dari cerita. Hmmm… terus gimana sih tanggapan para murid terhadap tugas ini?
“Waktu pertama kali tau ada tugas cergam ya agak kaget sedikit karena baru pertama kali bikin tugas cergam yang diberi audio. Kesusahan ketika kerja, paling waktu nyari kata-kata buat cergamya. Tapi seru sih karena bisa dubbing-dubbing di cergam,” ujar Calvin Go (XI IPS 3)
Seru ya pengalaman dari murid-murid kelas XI IPS 2 dan XI IPS 3. Tugas ini menjadi salah satu tugas yang memerlukan banyak kreativitas. Dari mulai mencari ide, menulis naskah, mencari karakter yang sesuai, hingga dubbing suara.
Wahh, bener-bener banyak jalan menuju drama ya? Eh, maksudnya, banyak alternatif lain yang dapat digunakan sebagai pengganti drama. Nah, guys, dari sini kita bisa belajar bila ada banyak metode lain yang sebenarnya juga efektif bila diterapkan. So, dadah guys!
Jurnalis:
Sherly Octavia Pangestu Kelas XI IPS 3
Cyrilla Levina Kuswanto Kelas XI MIPA 3
Graciel Thea Hariyono Kelas XI MIPA 1
Foto:
Yohanes Emanuel Prasetya putra Kelas XI IPS 3






