
Hai hai haiii! Kembali lagi di laporan harian kami tentang kehidupan di SMA Katolik Santo Paulus Jember! Rasanya ada yang kurang gasi kalau tidak ada berita tentang praktikum? Berhubung SMA Katolik Santo Paulus Jember adalah sekolah yang tidak hanya menerapkan teori dalam pembelajaran setiap harinya, jadi pasti ada praktikumnya dong! Lesgoo, pakai jaslab dan meluncur ke laboratorium Biologi!
Dalam minggu ini, mulai Senin (7/10/2024) hingga Jumat (11/10/2024), murid kelas XI MIPA mulai mempraktikkan materi ke-3 yang berhubungan dengan darah. Salah satunya, kami tentu belajar tentang golongan darah. Ternyata, golongan darah itu luas loh! tidak hanya A, B, AB, dan O melainkan ada rhesus + dan – serta ada golongan darah m dan n. ‘Golongan darah O bisa buat semua golongan darah loh!’ Eitsss, itu teori lama. Di teori terbaru hal itu tidak berlaku lagi. Bahkan, golongan darah A belum tentu cocok dengan golongan darah yang lain loh!

Berdasarkan teori, golongan darah A terdiri atas aglutinogen A dan aglutinin B. Golongan darah B terdiri atas aglutinogen B dan aglutinin A. Sedangkan golongan darah O tidak mempunyai aglutinogen A dan B, namun mempunyai aglutinin A dan B. Begitu juga dengan golongan darah AB mempunyai aglutinogen A dan B, namun tidak mempunyai aglutinin A dan B. Jika aglutinogen A bertemu dengan aglutinin A maka akan terjadi aglutinasi atau penggumpalan darah. Daripada kebanyakan teori, langsung praktik aja yuk!
Setiap murid akan menusukkan ujung jarinya dengan blood lancet yang dimasukkan ke dalam pen lancet. Blood lancet adalah tusukan sekali pakai. Tentu saja blood lancet yang telah digunakan selalu digantikan dengan yang baru agar mencegah penyakit yang menular melalui darah, seperti hepatitis dan HIV.
Sebelum menusukkan blood lancet, murid-murid diwajibkan mensterilkan jari mereka dengan kapas yang dibasahi alkohol 70%. Setelah ditusuk, jari akan ditekan agar mengeluarkan lebih banyak darah yang akan diteteskan di atas kaca objek sebanyak 2 tetes, diberi jarak antar tetesan. Salah satu tetesan darah diberi satu tetes reagen golongan darah anti A sedangkan satunya diberi satu tetes reagen darah anti B. Apabila darah yang diberi tetesan anti A menggumpal, dapat terjadi kemungkinan orang tersebut memiliki golongan darah A ataupun AB. Jika darah yang diberi tetesan anti B juga menggumpal, pemilik darah merupakan golongan darah AB, sebaliknya jika tidak menggumpal, artinya memiliki golongan darah A. Hal serupa terjadi pada pemilik golongan darah B, darah dengan tetesan anti A tidak menggumpal tetapi darah dengan tetesan anti B akan menggumpal. Jika kedua tetesan tidak menggumpal menandakan bahwa pemilik darah merupakan golongan O.

Kelihatannya seru juga ya? Tapi gimana sih respon anak-anak mengenai praktikum ini? Tapi lucu juga ya sekiranya ada anak-anak yang takut dengan alat blood lancet? Maka dari itu, kita tanya ke Jennifer Chelsea Wijaya dari XI MIPA 3. Chelsea membagikan pengalamannya yang harus menusuk dua kali lantaran pada percobaan pertama tidak mengeluarkan darah.
“Jujur saya sendiri sih kurang menikmati soalnya saya takut dengan jarum. Ditambah saya harus menusuk jari sendiri dua kali karena darahnya tidak keluar-keluar. Namun, melalui praktikum ini, saya menjadi lebih mengenal golongan darah saya sendiri sehingga bisa mencegah terjadinya penggumpalan saat transfusi darah,” ucapnya
Wah, walaupun unik dan asyik tapi tetap bermanfaat ya? Biologi asyik dan menyenangkan bukan? Dadah guys! See you!
Jurnalis:
Clarrence Nathania Hadi Kelas XI MIPA 3
Richelle Valerie Caron Kelas XI MIPA 4
Graciel Thea Hariyono Kelas XI MIPA 1
Foto:
Fransiscus Xaverius Darren Lie XI MIPA 4







