Yuk, Intip Perjalanan Kebhinekaan Antaragama

“Merajut Kebhinekaan! Harta berharga milik Indonesia!”

Eyyow SaintPaulers! Kembali lagi di artikel super keren kami! Kali ini ada kabar yang pasti bikin kalian penasaran. Kawan-kawan kita dari SMA Katolik Santo Paulus Jember baru saja menciptakan pengalaman luar biasa dengan berkunjung ke Pondok Pesantren Darul Muqomah! Wah bagaimana sih serunya kegiatan mereka di sana? Jangan lewatkan ceritanya! Terus baca sampai habis, ya!

Pada Jumat (27/09/2024), sebanyak 28 murid dari SMA Katolik Santo Paulus memulai petualangan mereka dalam kegiatan bertema “Merajut Kebhinekaan”. Mereka berangkat dari sekolah pada pukul 13.45 WIB dengan menggunakan dua bus. Tak hanya murid Katolik yang ikut, ada juga murid beragama Islam dan Kristen yang turut serta. Sepanjang perjalanan yang berlangsung lancar, ada yang terlelap, sedangkan yang lain asyik berbincang.

Setibanya di Pondok Pesantren Darul Muqomah pada pukul 15.00 WIB, para murid dari SMA Katolik Santo Paulus segera turun dari bus dan mengisi presensi. Setelah itu, mereka disuguhi pertunjukan PBB kreasi oleh 12 murid pondok pesantren. Meski angin kencang berhembus, justru hal itulah yang seolah menambah dramatisnya pertunjukan, membuat gerakan mereka makin epik. Terlebih lagi, mereka menceritakan kisah tentang burung Garuda. Melalui pertunjukan ini, para murid dari SMA Katolik Santo Paulus diharapkan dapat terinspirasi untuk ikut serta dalam PBB kreasi.

Setelah pertunjukan, para murid dipisahkan ke dua ruangan, yaitu ruangan khusus cowok dan cewek. Begitu berkenalan, suasana yang semula kaku dapat langsung mencair. Hanya dengan berjabat tangan, para murid dari dua sekolah ini sudah bisa akrab. Yang membuatnya makin istimewa, mereka berbincang dalam bahasa Jawa.

Tanpa menunggu lama, seluruh murid berkumpul di aula. Dengan saksama, mereka mendengarkan sambutan dari pendamping kedua sekolah. Akan tetapi, tak ada waktu untuk berlama-lama dalam formalitas. Dengan cekatan, sang pembawa acara mengambil kendali. Beliau menginstruksikan agar para murid segera bergabung dalam kelompok yang telah disusun. Setiap kelompok terdiri dari 5–6 murid SMA Katolik Santo Paulus dan enam murid dari Pondok Pesantren Darul Muqomah. Tantangan mereka? Menciptakan yel-yel dan menyiapkan satu penampilan kreatif yang akan dipentaskan malam nanti. Pada awalnya, mereka bingung. Pasalnya, tak ada yang benar-benar saling kenal. Namun, ajaibnya, suasana canggung itu cepat mencair. Dalam waktu singkat, mereka mulai berbaur, saling tertawa, dan tanpa ragu menyanggupi tantangan yang diberikan sang pembawa acara.

Setelah waktu istirahat usai, seluruh murid melaksanakan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Kawan-kawan dari SMA Katolik Santo Paulus yang biasanya hanya beribadah di hari Minggu, kini juga mengikuti ibadah sore. Mereka memanfaatkan aplikasi di ponselnya. Di sisi lain, murid Pondok Pesantren Darul Muqomah melaksanakan salat mereka dengan khusyuk dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Setelah itu, datanglah acara yang ditunggu-tunggu—api unggun. Para murid duduk melingkar bersama kelompok masing-masing dan menyusun rencana terakhir untuk penampilan mereka. Urutan tampil ditentukan secara acak. Ketika pertunjukan dimulai, lapangan dipenuhi yel-yel dan diikuti oleh berbagai penampilan yang tak kalah menarik. Dua kelompok memamerkan gerakan senam, sedangkan dua lainnya memilih berjoget kewer-kewer yang sukses mengundang tawa. Namun, puncak acara tiba saat sebuah kelompok mengajak semuanya menyanyikan “Laskar Pelangi”.

Acara belum usai! Setelah pertunjukan yang meriah, para murid dihadapkan pada tantangan baru dari sang pembawa acara. Setiap kelompok harus berusaha menyalakan api mereka sendiri. Mereka hanya bermodalkan arang yang diberikan. Sebagai bagian dari tantangan, mereka juga menerima beberapa jagung untuk dibakar dan dinikmati bersama. Beberapa kelompok sukses membakar jagung dengan sempurna, sedangkan yang lain membuat jagung gosong! Di tengah keseruan ini, ada satu kelompok yang mencoba membakar ikan, tetapi sayangnya ikan itu terlalu tebal untuk matang sempurna. Namun, bukannya kesal, mereka justru tertawa dan saling berbagi makanan. Mereka saling berbagi cerita dan lelucon. Pada malam itu, mereka berhasil mengubah tantangan menjadi kesempatan untuk menciptakan kenangan.

Pada pukul 22.00 WIB, para murid mulai bersiap untuk tidur meskipun tidak sedikit yang masih bergadang hingga pagi. Keesokan harinya, mereka harus bangun lebih awal untuk melaksanakan ibadah. Pada pukul 06.00 WIB, mereka berangkat menuju Candi Deres.

Setibanya di Candi Deres, para murid disambut dengan segudang informasi menarik. Seharusnya candi ini memiliki tiga stupa. Sayangnya, kini hanya menyisakan dua setelah salah satunya runtuh. Penyebab kerusakan candi ini terbagi menjadi dua, yakni faktor alam dan faktor manusia. Faktor alamnya berupa bencana alam seperti gempa bumi. Sementara itu, faktor manusianya berupa penjarahan arca. Untuk melindungi sisa-sisa kejayaan, semua arca yang tersisa disimpan di museum.

Setelah menghabiskan pagi dengan segudang pengetahuan, akhirnya para murid memuaskan rasa lapar dan haus mereka. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Cemara. Begitu tiba di Pantai Cemara, para murid diarahkan ke sebuah area khusus untuk menanam mangrove. Suasana telah mencair. Ketika kaki mereka mulai menyentuh air untuk menanam, tanah di bawah kaki sangaaatt lembek. Namun, semangat tak surut. Dengan kerja sama, mereka bahu-membahu menanam dan mengikat mangrove-mangrove muda.

Meski berat, perpisahan pun tiba. Mereka harus meninggalkan kawan-kawan baru dari Pondok Pesantren Darul Muqomah. Akan tetapi, sebelum berpisah, salah satu murid dari pondok membagikan kesannya. “Seru dan asyik. Hal ini adalah kenangan yang tak terlupakan dan indah. Menurut saya, mereka asyik dan ramah, plus suka membantu, melengkapi satu sama lain,” ujar Arya Maulana M.

Jangan sedih, SaintPaulers! Perpisahan ini bukan akhir dari segalanya. Tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan kawan-kawan dari Pondok Pesantren Darul Muqomah kalau kalian ikut kegiatan seru ini. Jadi, pastikan kalian ikut, ya! Ayo kita buat kenangan baru yang lebih seru. Sampai jumpa di petualangan berikutnya!

Jurnalis:

Patricia Lorenza Handoko Kelas X-5

Foto:

Christophorus Raditya Herliano Kelas XI MIPA1