
Uyy uyy Saintpaulers!
Hayoo, siapa yang sudah mulai diserbu jadwal praktikum? Apalagi anak-anak MIPA nih. Aduhh.. Numpuk ya ges ya? Yah, semangat aja sih kata gue, siapa suruh masuk IPA. Hahaha. Meski begitu, praktikum tetap menyenangkan, bukan? Karena kita diajak untuk bekerja dalam kelompok! Jadi, ga cepet bosen deh. Selain itu, praktikum juga membantu tahap pemahaman awal sebelum eksekusi materi dalam bab tersebut dilakukan.
Baru-baru ini, kelas XII MIPA bergantian untuk memasuki laboratorium Kimia. Ehh, kira-kiraada apa? Kamnyu nanyeaa? Yaa, tentu saja praktikum Kimia dong! Praktikum Kimia kelas XII kali ini berkaitan dengan mengamati fenomena sifat koligatif larutan. Kelas X dan XI belum relate ya dengan judul praktikum kali ini ya? Satu-dua tahun lagii akan relate kok, xixixi. Gini deh, kakak-kakak kelas XII akan bantu spill seputar praktikum kali ini. Hitung-hitung agar kalian tidak terkedjoet! Yuk, kita simak.

Cerita praktikum kali ini berasal dari kelas XII MIPA 1. Hari Rabu (31/07/2024) lalu, kelas XII MIPA 1 menuju laboratorium Kimia bersama dengan Ibu Rini Pratiwi Dwiharini, S.Pd. Layaknya para ilmuwan, mereka berjalan memakai jas lab kebanggaan. Setelah sampai di laboratorium yang letaknya kurang dari 100 meter itu, para murid langsung duduk di meja sesuai dengan kelompoknya. Saatnya coba-coba dimulai. Ehh, maksudnya praktikum dimulai!
Bahan utama dalam percobaan kali ini adalah gula dan garam. Mengapa demikian? Sebab, fenomena sifat koligatif larutan dengan mudah diamati menggunakan penambahan dua bahan tersebut ke dalam air. Sifat koligatif larutan memiliki arti sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut dalam larutan. Sederhananya, semakin banyak zat yang kamu larutkan dalam air (misalnya garam atau gula), semakin besar pengaruhnya terhadap sifat larutan tersebut, terlepas dari jenis zat yang dilarutkan. Dalam praktikum ini, para siswa diajak untuk menguji pengaruh adanya garam dan gula pada larutan terhadap titik didih dan titik beku. Menarik banget kannn??

Larutan dibagi menjadi dua jenis, yaitu larutan gula dan larutan garam. Tujuan dari praktikum ini adalah mengamati perbedaan pengaruh larutan elektrolit dan non-elektrolit pada titik didih dan titik beku suatu larutan. Larutan gula berperan sebagai larutan non-elektrolit dan larutan gula sebagai larutan elektrolit, tentu keduanya memiliki perbedaan. Sesuai dengan teori sifat koligatif, titik didih larutan elektrolit akan lebih tinggi dari larutan non-elektrolit dan titik beku larutan elektrolit akan lebih rendah dari larutan non-elektrolit. Kokk bisa gituu? Titik didih larutan elektrolit lebih tinggi karena adanya ion-ion yang dihasilkan dari zat terlarut elektrolit yang mengganggu penguapan molekul pelarut, sehingga membutuhkan energi yang lebih besar untuk mencapai titik didih. Hal ini juga berlaku untuk titik beku. Titik beku larutan elektrolit lebih rendah karena adanya ion-ion yang dihasilkan dari zat terlarut elektrolit yang mengganggu pembentukan kristal es, sehingga membutuhkan suhu yang lebih rendah untuk membekukan larutan.
Eh ada kejadian lucu saking asyiknya praktikum hari ini. Termometer untuk mengukur suhu larutan dalam tabung ikut membeku, lho! Kok bisa?? Hal itu terjadi karena wadah kalorimeter terlalu lama digoyangkan. Yaa, jadinya tabung reaksi yang berisi air dan garam untuk diukur suhunya malah beku maksimal. Termometer jadi nyangkut deh di dalam tabung reaksi. Panik gaa tuh? Hahaha.. Aja-aja ada euh..
Selain itu, bahaya dari keasyikan praktikum jadi lupa waktu nii. Eee, 15 menit lagi bel! Bersih-bersih alias mencuci adalah kewajiban akhir sebelum meninggalkan laboratorium. Huft, selesai! Cerita praktikum hari ini asyik-kan?
Eitss.. Laporan praktikumnya jangan lupa dikerjakan yah! Sampai jumpa di artikel selanjutnya!!
Jurnalis:
Hildegardis Raras Kelas XII MIPA 1
Asher Yedijah Kelas XII MIPA 1
Fotografer:
Hildegardis Raras Kelas XII MIPA 1
Asher Yedijah Kelas XII MIPA 1







