Berbeda untuk Menjadi Indah

Hey hey SainPaulerss…

Gimana nih kabarnya. Semoga baik-baik saja yaa

Btw, tanggal 5 April 2024 kemarin kita mendapat surat nih. Kira-kira surat apa ya? Apakah surat cinta untuk dia? Tentunya tidak dong. Jadi, surat itu berupa surat undangan Seminar Keagamaan 2024 dari Keluarga Mahasiswa Sejarah Universitas Jember. Kegiatannya diadakan Sabtu kemarin (27/04/2024) di FKIP Gedung 3 UNEJ. Kegiatan ini bertema “Seminar Keagamaan: Harmonisasi Keberagaman Dan Kebangsaan Bagi Generasi Z Kunci Masa Depan Bangsa”.

Nah, saya akan berbagi pengalaman ya temen-temen. Kebetulan, yang mendapat kehormatan untuk hadir dalam kegiatan tersebut itu, saya Jonathan William dan ditemani dua orang teman yaitu Veronica Natasya Halek dan Gabriela Maria Metta. Pada Sabtu kemarin pukul 08.00 WIB, saya dan kedua teman saya langsung menghadiri acara. Berhubung kegiatan ini adalah seminar yang bertemakan agama, jadi ada tiga pemateri yang berasal dari agama yang berbeda-beda yaitu Ibu Katarina Leba, S.Ag., M.Th. sebagai pemateri agama Katolik, Bapak Dewa Ngakan Gede Wahyu Mahatma Putra, S.ST., M.A.R.S. sebagai pemateri agama Hindu, dan Ustad M. Agus Salim, S.Pd. sebagai pemateri agama Islam.

Para pemateri menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi Gen Z menghambat terjadinya harmonisasi. Hambatan tersebut berupa influensi negatif tentang agama lain, kurangnya pemahaman tentang Pancasila, globalisasi, hoaks dan isu SARA di media sosial, kurangnya interaksi dengan umat yang berbeda keyakinan, berburuk sangka terhadap umat agama lain hingga budaya bergunjing atau bergibah. Selain berbicara tentang tantangan, mereka juga menjelaskan bagaimana Gen Z dapat membentuk harmonisasi dengan memanfaatkan media sosial untuk menginfluensi positif pandangan tentang agama, meluruskan hoaks dan isu SARA yang ada dan mengadakan kegiatan sosial dengan melibatkan umat agama lain.

Tak kalah penting, para pemateri juga menjelaskan manfaat dari terbentuknya harmonisasi umat beragama seperti terbentuknya kerja sama, keadilan, dan perdamaian. Hal ini juga diperkuat oleh ucapan Bapak Dewa Ngakan. “Sekarang adalah era kolaborasi, bukan kompetisi,” ujar Bapak Dewa dalam seminarnya.

Nah, setelah membaca pengalaman singkat ini, kita semua dapat merefleksikan bahwa melalui seminar ini, kita semua diingatkan untuk selalu menjaga harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang multikultur. Seperti yang sudah diungkapkan oleh Bapak Dewa bahwa “Setiap nada diciptakan berbeda agar musik menjadi indah”.

Nah, setelah membaca pengalaman singkat ini, gimana pendapat teman-teman? Kira-kira setuju nggak kalau kita semua harus mampu saling menghargai satu sama lain?? Pastinya setuju yaa??

Baiklah, artikel hari ini cukup sekian dulu ya. Terima kasih sudah membaca. See you guys, byee!

Oleh:

Jonathan William kelas XI MIPA 2

Foto:

Jonathan William kelas XI MIPA 2