
Halo semuanyaa, kalian sadar ga sih baru-baru ini ada dua meja di luar kantin kita? Kalian sudah lihat belum itu meja apa saja?? Nahh di artikel kali ini, kami akan membahas soal apa sih guna meja itu??
Terdapat dua meja baru di luar kantin kita yang tercinta, satu di pintu keluar dekat kapel dan satunya di pintu keluar dekat wastafel. Apa guna meja itu? Ibu Dina Putu Ayu K., S. Pd. selaku guru Biologi SMAK Santo Paulus menjalankan program memilah sampah yang telah dipelajari di pelajaran biologi. Kita lihat yok apa latar belakang program Bu Dina ini.
Dalam pelajaran Biologi, kita mempelajari ekosistem. Ibu Dina menerapkan apa yang telah dipelajari dalam biologi yaitu siklus biogeokimia. Sisa organisme ketika kembali ke tanah akan diurai oleh dekomposer sehingga kembali lagi menjadi senyawa-senyawa yang bisa diserap oleh tumbuhan atau sederhananya akan berubah menjadi pupuk. Berdasarkan pengamatan, sekolah kita ini berpotensi untuk menghasilkan sisa-sisa organik, seperti sisa makanan, daun-daun kering, dan ranting-ranting. Bila daun-daun kering terkait erat dengan taman sekolah, sisa makanan terkait kuat dengan para murid SMAK Santo Paulus.
Murid seringkali membeli makanan di kantin dan terkadang makanan-makanan tersebut tidak habis lalu dibuang begitu saja di tempat sampah dengan paper bowl-nya. Memang sisa makanan tersebut akan membusuk dan berakhir di TPA. Namun, pembusukan itu tentu saja berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar. “Pembusukan itu akan menimbulkan bau yang nggak enak. Artinya, beres di kita tapi nggak beres di tempat lain dan orang lain,” ujar Bu Dina.
Program ini merupakan bentuk aksi nyata dari pembelajaran Biologi. Dengan menerapkan program ini, pembelajaran menjadi lebih bermanfaat dan bermakna daripada hanya mendapatkan nilai dan tuntas di rapor tapi permasalahan sesungguhnya tidak beres.

“Memang itu usulan dan program dari saya pribadi sebagai guru Biologi kepada sekolah. Saya berharap supaya program ini juga menjadi bagian dari pendidikan untuk murid-murid SMAK Santo Paulus,” ujar Bu Dina. Bu Dina juga mengatakan bahwa program ini diawali di kantin karena kantin merupakan tempat untuk makan. Bu Dina mulai membiasakan murid untuk memilah di area sekitar murid terlebih dahulu yaitu kantin. Harapan Bu Dina agar nanti tempat pemilahan tidak jauh dari murid.
Walaupun sekolah telah menyediakan sarana pemilahan sampah bagi para murid khususnya di area kantin SMAK Santo Paulus, pastinya ada beberapa murid yang tidak memilahnya di tempat yang telah disediakan. Hmm, kira-kira sampah yang bercampur makanan di tong sampah bakal dipilah kembali nggak, ya? “Nggak ada orang yang mau memilah sampah yang bercampur makanan, kecuali orang-orang yang sangat membutuhkan. Memang itu menjadi rezeki bagi mereka tapi alangkah baiknya jika kita memberikan rezeki pada mereka dalam kondisi yang layak, tanpa orang harus mengais sampah sisa makanan kita. Sebetulnya, nggak ada orang yang mau ngopeni sampah kita,” ujar Bu Dina.
“Nah, harapannya murid-murid meminimalisir membuang ke tong sampah tapi membuangnya ke tempat pemilahan yang disediakan. Dari tempat pemilahan itu, juga akan menjadi rezeki bagi orang lain,” imbuh beliau.
Gimana sih perkembangan dari program ini? Mungkin ada beberapa orang yang pesimis, “buang sampah pada tempatnya aja sulit apalagi harus memilahnya”. Namun, ternyata murid SMAK Santo Paulus mampu memilahnya tanpa harus ada gertakan dan ancaman. Keren bangett yaa, kesadaran diri mereka akan lingkungan tinggi banget ternyata. Yuk, kita biasakan diri untuk memilah sampah dari hal yang sederhana! Kita pasti bisa jadi agen perubahan bagi masyarakat sekitar!
“Kebersihan itu dimulai dari diri kita, kalau bukan kita, siapa lagi?”
Jurnalis:
Richelle Valerie Caron Kelas X MIPA 1/24/12371
Sevira Maria Angelica Putri Kelas X IPS 3/25/12379
Foto:
Viona Valencia Kelas X MIPA 4/27/12393







