Wujud Cinta Budaya, Murid Kenakan Pakaian Adat

Di setiap hari Jumat keempat dalam setiap bulan, para murid SMAK Santo Paulus Jember wajib mengenakan pakaian adat. Dikenakannya pakaian adat ini adalah sebagai wujud cinta kita terhadap budaya Indonesia. Tak hanya kalangan para murid saja, para staf dan dewan guru juga antusias mengenakan pakaian adat. Dengan adanya pakaian adat yang beragam, timbul rasa bangga yang mendalam terhadap negara kita tercinta Indonesia. Terbesit pemikiran yang membanggakan “Wah ternyata budaya kita beragam juga ya.”  Keren! Fantastik! SMAK Santo Paulus menjadi lautan budaya hari ini.

Awalnya pemakaian baju adat saat sekolah merupakan keputusan dari Pemda (Pemerintah Daerah). Interupsi secara nasional juga, bahwa sekolah harus mengenakan baju adat setiap satu bulan sekali. Maka, dengan adanya interupsi secara nasional ini, sekolah menindaklanjuti di setiap satu bulan sekali para murid dihimbau untuk mengenakan baju adat. Pemakaian baju adat ini tidak hanya berlaku untuk sekarang, tetapi juga di tahun-tahun berikutnya.

Dalam pemakaian baju adat ke sekolah ini, SMAK Santo Paulus tidak memberikan ketentuan jenis baju adat yang harus digunakan. Kebebasan dalam pemakaian baju adat ke sekolah dapat mendorong murid dalam berkreasi serta mengembangkan potensi, seperti adanya improvisasi seni, tata busana, fashion, dan apapun itu. Pemakaian baju adat ke sekolah dapat mendorong siswa dalam menumbuhkan nasionalisme dan juga pendidikan karakter, yang mana menunjukkan perbedaan itu indah.

Mayoritas murid putri mengenakan baju adat Kebaya sedangkan murid putra baju adat Madura. Tak hanya itu, masih banyak baju adat Nusantara beragam yang dikenakan para murid dan staf dewan guru. Banyak kelas mengabadikan momen pengenaan pakaian adat ini dengan mengambil foto bersama. Senangnya oh senangnya, budaya kita selalu kaya, akan ragam dan budayanya. Maju terus, Indonesiaku.

Kekayaan budaya yang ada di Indonesia sangat beragam, kita semua sebagai pelajar wajiblah bangga dan antusias mempelajari kebudayaan yang ada. Patutlah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa pencipta keragaman semesta ini.

Jurnalis :

Sevira Maria Angelica Putri Kelas X IPS 3/25

Arum Dewi Hapsari Kelas XII MIPA 2 /01

Foto:

Arum Dewi Hapsari Kelas XII MIPA 2/01
Cheerly Tannia Hartono Kelas XII MIPA 1/4